Shared Berita

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com — Dalam praktik pemerintahan daerah, 300 hari pertama kerap dimaknai sebagai fase adaptasi dan konsolidasi internal kepemimpinan. Namun persepsi tersebut terpatahkan di Kabupaten Polewali Mandar. Kamis (1/1/2026)

Pasangan kepemimpinan ASSAMI justru memanfaatkan rentang Februari hingga Desember 2025 sebagai ruang akselerasi kebijakan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor.

Berbagai indikator makro ekonomi dan sosial yang dirilis sepanjang akhir 2025 memperlihatkan tren perbaikan yang konsisten.

Capaian tersebut menandai pergeseran nyata dari sekadar janji kampanye menuju hasil pembangunan yang terukur dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Salah satu pencapaian strategis yang mencolok adalah lonjakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kabupaten Polewali Mandar resmi keluar dari kategori “Sedang” dan menembus Kategori Tinggi, dengan skor meningkat dari 69,88 menjadi 70,71.

Peningkatan ini mencerminkan kemajuan fundamental pada dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Usia Harapan Hidup (UHH) yang kini mencapai 71,46 tahun menjadi indikator membaiknya akses layanan kesehatan dasar, kualitas lingkungan, serta pemerataan sanitasi di berbagai wilayah Bumi Mandar.

Di sektor pengentasan kemiskinan, Polman mencatat prestasi signifikan sebagai daerah dengan laju penurunan kemiskinan tercepat di Sulawesi Barat.

Persentase penduduk miskin berhasil ditekan dari 15,66 persen menjadi 14,02 persen dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Pendekatan yang digunakan tidak semata bersifat karitatif. Pemerintah daerah memadukan bantuan sosial tepat sasaran dengan penguatan ekonomi keluarga.

Hasilnya, 857 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) berhasil melakukan graduasi mandiri, menandakan kemandirian ekonomi dan lepas dari ketergantungan bantuan.

Upaya tersebut diperkuat melalui pembangunan fisik berbasis kebutuhan riil masyarakat, seperti renovasi 76 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dibarengi peningkatan kapasitas sumber daya manusianya.

Baca Juga  DPRD Polewali Mandar Soroti RTRW: Binuang Diproyeksikan Jadi Kawasan Industri, Ini Catatannya!

Sebagai sektor penopang utama ekonomi daerah, pertanian mendapat perhatian serius. Pemerintah menyalurkan lebih dari satu juta bibit kakao serta ratusan unit alat dan mesin pertanian (alsintan) guna mendorong efisiensi dan produktivitas petani.

Di sisi lain, stabilitas harga kebutuhan pokok juga dijaga secara konsisten. Di tengah tekanan ekonomi global, Polman mampu mengendalikan inflasi dan bahkan mencatat deflasi pada periode tertentu, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Pengelolaan pangan tersebut mendapat pengakuan nasional melalui sertifikat kategori “Baik” (B) dari Badan Pangan Nasional, menegaskan bahwa ketahanan dan keamanan pangan daerah berada dalam kendali yang solid.

Capaian dalam 300 hari pertama ini tidak lahir secara instan. Fondasinya terletak pada kemampuan kepemimpinan ASSAMI dalam menyinergikan sumber pembiayaan dari APBD kabupaten, dukungan provinsi, hingga intervensi program nasional melalui APBN, sehingga program pembangunan berjalan terarah dan saling menguatkan.

Pendekatan berbasis data dan penguatan sektor riil membuat visi “Polewali Mandar Sehat, Cerdas, dan Maju” mulai terwujud dalam indikator nyata, bukan sekadar jargon politik.

Meski tantangan pembangunan ke depan masih kompleks, arah kebijakan yang diletakkan dalam 300 hari pertama ini memberi optimisme baru.

Polewali Mandar kini menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Barat, dengan pembangunan yang semakin inklusif dan berkelanjutan.

Dalam konteks kepemimpinan daerah, 300 hari kerap dianggap sebagai masa “bulan madu” atau fase transisi.

Namun pengalaman Polewali Mandar di bawah kepemimpinan ASSAMI menunjukkan bahwa periode awal pemerintahan dapat menjadi ruang strategis untuk melakukan lompatan kebijakan, selama ditopang sinergi lintas sektor, ketepatan data, dan keberanian mengeksekusi program secara terukur. (Bsb)

Editor: Basribas

Iklan