Shared Berita

Oleh: Hj. Dian Nurindah Sudirman Aseng

Sulbarpos.com, OPINI – Kunjungan Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat (KWMSB) ke sentra UMKM di Yogyakarta menyodorkan satu pelajaran berharga, bahwa kita memiliki sebuah kenyataan pahit. Banyak daerah tertinggal bukan karena kekurangan potensi, melainkan karena miskin keberanian untuk berubah. Apa yang dilihat di Yogyakarta sesungguhnya bukan sesuatu yang luar biasa, ia adalah konsistensi dan kesungguhan.

Kita masih menyaksikan, rumah produksi rengginang, dapur kayu bakar masih digunakan di tempat yang sederhana, tidak mewah. Cara kerja tradisional tetap dipertahankan. Tetapi yang menarik, produk terus berjalan, pasar hidup, dan perempuan diberdayakan di sini.

Kontras ini mengkritik logika pembangunan kita di daerah, khususnya di Sulawesi Barat yang sering mengaitkan kemajuan dengan alat modern, proyek besar, dan anggaran gemuk. Kenyataan justru berbicara terbalik, yang membuat UMKM bertahan bukan mesin mahal, melainkan sistem yang bekerja, jejaring, pemasaran, SDM dan arah visi yang jelas.

Masalah UMKM di banyak daerah—termasuk Sulawesi Barat—bukan pada produksi saja. Ikan melimpah, hasil laut berlimpah, tangan-tangan terampil juga tersedia. Persoalannya berhenti di hilir, yaitu kemasan asal-asalan, pemasaran seadanya, dan narasi produk yang nyaris tak pernah dibangun. Produk dijual, tetapi tidak “diceritakan”. Akibatnya, ia kalah bahkan sebelum masuk pasar.

Kunjungan ke sentra mochi dan dodol memperlihatkan peluang yang sering kita abaikan. UMKM tidak harus berhenti sebagai dapur produksi. Ia bisa menjadi ruang edukasi, wisata, dan promosi budaya. Di Yogyakarta, hal ini sudah dipahami sebagai ekosistem. Di banyak daerah lain, UMKM masih dibiarkan berjalan sendiri, tanpa pendampingan serius, tanpa integrasi dengan pariwisata, dan tanpa keberlanjutan.

Yang paling menyentil justru pengalaman di galeri penjualan. Produk sederhana tampak bernilai karena dikemas dengan cerita. Siapa yang membuat, bagaimana prosesnya, dari mana bahan bakunya. Cerita itu membuat pembeli merasa terhubung. Di sini kita harus jujur mengakui bahwa selama ini kita terlalu sibuk memproduksi, tetapi malas mengemas dan menceritakan.

Baca Juga  Makna Hijrah Secara Filosofis: Respon Kritis Terhadap Hijrah Simbolik

Mari kita melihat Thailand sejenak. Di sana ada makanan tradisional, di sana bisa tampak premium tanpa mengubah isinya. Di sana ada kemasan kreatif, visual bersih, dan identitas jelas sudah cukup menaikkan nilai jual. Kita sering berdalih soal keterbatasan modal, padahal yang lebih terbatas adalah imajinasi dan kemauan belajar.

Kunjungan KWMSB ke Yogyakarta seharusnya dibaca sebagai alarm bahwa kita terlalu sering bangga pada potensi, tetapi jarang marah pada kenyataan bahwa potensi itu dibiarkan mentah. Kita gemar seminar, tetapi lemah dalam pendampingan. Kita sibuk berbicara inovasi, tetapi enggan memperbaiki hal paling dasar (kemasan, pemasaran, dan jejaring).

Pelajaran dari Yogyakarta sederhana, tetapi menuntut keberanian, berhenti mengeluh soal keterbatasan dan mulai mengubah cara kerja. Mulai dari mendata potensi secara serius, membangun kolaborasi lintas sektor, dan menjadikan perempuan bukan sekadar objek program, melainkan subjek ekonomi.

Jika pengalaman ini hanya berakhir sebagai cerita perjalanan, maka ia kehilangan makna. Tetapi jika ia menjadi bahan koreksi—bahkan kritik—terhadap cara kita mengelola UMKM selama ini, maka dari dapur rengginang itulah perubahan bisa dimulai.

(Penulis adalah Wakil Ketua I BPP-KWMSB)

Iklan