Shared Berita

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tingkat pengecer di Kabupaten Polewali Mandar mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian. Tidak hanya mengganggu transportasi masyarakat, krisis BBM kini menghambat proses pengangkutan hasil panen petani, khususnya gabah di wilayah persawahan.

Di Desa Tonrolima, Kecamatan Matakali, aktivitas pengangkutan gabah dari area persawahan menuju jalan utama maupun gudang penyimpanan terhenti total. Taxi motor pelansir gabah yang selama ini menjadi andalan petani tidak lagi beroperasi karena kesulitan memperoleh BBM dari pengecer.

Akibatnya, gabah yang telah dipanen dan dikemas dalam karung terpaksa menumpuk di area persawahan. Di beberapa titik, tumpukan karung gabah terlihat masih berada di pematang sawah karena tidak adanya kendaraan pengangkut yang beroperasi.

Salah satu joki taxi motor pelansir gabah mengaku sudah beberapa hari terakhir sangat sulit mendapatkan BBM eceran. Kalaupun tersedia, harganya melonjak jauh dari harga normal.

“Sekarang hampir tidak ada BBM eceran. Kalau ada, harganya bisa sampai Rp30 ribu per botol. Kami tidak berani beroperasi karena susah dapat bahan bakar,” ujarnya. Kamis (2/4/2026)

Kondisi ini membuat petani berada dalam situasi sulit. Gabah yang terlalu lama berada di sawah berisiko lembab atau terkena hujan, yang dapat menurunkan kualitas gabah dan berdampak langsung pada harga jual di pasaran.

Sejumlah petani bahkan terpaksa menunda panen atau menyesuaikan jadwal panen dengan ketersediaan BBM. Mereka harus memastikan kendaraan pelansir memiliki bahan bakar terlebih dahulu sebelum melakukan panen agar hasil panen tidak tertahan di sawah.

“Kalau gabah lama di sawah bisa rusak. Kami sekarang panen harus lihat dulu apakah ada motor yang bisa angkut atau tidak,” kata salah satu petani di Matakali.

Baca Juga  Heboh! WNA Tiongkok Berendam 4 Jam di Laut Malunda, Ternyata Overstay dan Kini Ditangani Imigrasi

Kelangkaan BBM yang terjadi serentak di tingkat pengecer juga menimbulkan tanda tanya di masyarakat. BBM yang biasanya dijual bebas di kios dan pinggir jalan mendadak sulit ditemukan hampir di semua wilayah secara bersamaan.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan distribusi dan ketersediaan BBM, terutama di tingkat pengecer yang sangat dibutuhkan masyarakat pedesaan dan petani.

Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya sektor transportasi yang terdampak, tetapi juga sektor pertanian yang menjadi penopang ekonomi masyarakat Polewali Mandar.

Stabilitas distribusi BBM menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran panen, distribusi hasil pertanian, serta kestabilan ekonomi masyarakat pedesaan. (*rls)

Editor: Basribas

Iklan