Shared Berita

JAKARTA, Sulbarpos.com — Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ismi Ulfaida, siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, membuktikan hal tersebut setelah sukses menjalankan tugas sebagai Cadangan Pembawa Baki pada Upacara Penurunan Bendera Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026) sore.

Ismi menjadi bagian dari Tim Indonesia Adil Makmur, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang bertugas dalam rangkaian upacara penurunan bendera pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam formasi upacara penurunan bendera tersebut, putri asal Papua, Neeltje Deliana Insjowi Werimon, dipercaya sebagai pembawa baki. Sementara Ismi Ulfaida mendapat amanah sebagai cadangan pembawa baki, sekaligus menjadi bagian penting dari pasukan yang menjalankan tugas kenegaraan di hadapan Presiden Republik Indonesia.

Kehadiran Ismi di Istana Merdeka menjadi capaian istimewa. Ia tidak hanya membawa nama pribadi dan keluarga, tetapi juga menjadi representasi generasi muda Sulawesi Barat yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Tim Indonesia Adil Makmur sendiri beranggotakan 76 putra-putri terbaik dari 38 provinsi di Indonesia. Mereka menjalankan tugas dalam formasi yang telah ditetapkan untuk memastikan seluruh rangkaian upacara kenegaraan berlangsung khidmat dan tertib.

Perjalanan Ismi menuju panggung nasional bukanlah sesuatu yang mudah. Sebelumnya, ia harus melewati rangkaian seleksi yang diikuti lebih dari 19 ribu peserta dari berbagai daerah. Dari proses panjang tersebut, Ismi berhasil menjadi satu-satunya siswa Sekolah Rakyat yang lolos sebagai Calon Paskibraka Nasional 2026.

Prestasi tersebut menjadi catatan penting bagi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar sekaligus menunjukkan bahwa kesempatan untuk berprestasi terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan, disiplin, dan semangat untuk berkembang.

Baca Juga  Menag Imbau Seluruh Umat Beragama Berikan Dukungan ke Palestina

Di balik pencapaian itu, terdapat kisah keluarga sederhana dari Desa Bonra, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar. Ismi merupakan putri pasangan Rahman dan Suburia yang selama ini memberikan dukungan serta motivasi agar anaknya terus belajar dan mengejar cita-cita.

Rahman, ayah Ismi, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak selalu tetap, berkisar antara Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Sementara sang ibu, Suburia, membantu menopang ekonomi keluarga melalui usaha kecil-kecilan dari rumah.

Kondisi ekonomi keluarga tidak menyurutkan langkah Ismi. Justru dari lingkungan keluarga tersebut tumbuh semangat untuk belajar, berusaha dan membuktikan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari keadaan yang serba berkecukupan.

Pesan kedua orang tuanya pun sederhana, tetapi menjadi pegangan Ismi dalam menjalani pendidikan dan mengejar cita-cita: terus semangat belajar, menghormati orang tua dan guru, serta tidak mudah menyerah menghadapi tantangan.

Kini, perjuangan itu mengantarkan Ismi berdiri di panggung nasional. Dari Desa Bonra, Mapilli, Polewali Mandar, ia mampu menembus seleksi nasional dan menjalankan tugas dalam upacara kenegaraan di Istana Merdeka.

Kisah Ismi menjadi gambaran bahwa latar belakang keluarga dan tempat seseorang berasal bukanlah batas untuk meraih masa depan. Ketekunan, kedisiplinan, kesempatan dan keberanian untuk bermimpi dapat membuka jalan menuju prestasi yang lebih besar.

Bagi masyarakat Sulawesi Barat, kiprah Ismi juga menjadi kebanggaan tersendiri. Ia telah membawa nama Provinsi Sulawesi Barat, khususnya Kabupaten Polewali Mandar, ke tingkat nasional melalui sebuah tugas yang sarat dengan nilai kebangsaan dan kehormatan.

Ismi membuktikan bahwa asal seseorang tidak menentukan sejauh apa ia dapat melangkah. Dari keluarga sederhana di Desa Bonra, ia mampu berdiri di Istana Merdeka dan menjadi bagian dari sejarah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Baca Juga  Kemenag Ajak Ratusan Influencer Jadi Kader Hisab Rukyat Nasional

Kisah tersebut sekaligus menjadi pesan bagi generasi muda Polewali Mandar dan Sulawesi Barat: jangan pernah merasa kecil karena berasal dari keluarga sederhana. Selama ada kemauan untuk belajar, disiplin dalam berproses dan keberanian mengejar cita-cita, kesempatan untuk mengukir prestasi selalu terbuka.

Keberhasilan Ismi Ulfaida menjalankan tugas sebagai Cadangan Pembawa Baki pada Upacara Penurunan Bendera di Istana Merdeka menjadi bagian dari perjalanan prestasinya sebagai pelajar.

Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siswa-siswi di Sulawesi Barat untuk terus mengembangkan potensi, menjaga kedisiplinan dan berani berkompetisi di tingkat nasional. (*Mull)

Editor: Basribas

Iklan