Shared Berita

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Arah pembangunan pendidikan Kabupaten Polewali Mandar (Polman) memasuki fase krusial pada 2026. Evaluasi mutu belajar melalui Rapor Pendidikan 2024–2025 menunjukkan fakta penting: akses dan partisipasi pendidikan relatif stabil, namun kualitas literasi dan numerasi peserta didik masih belum bergerak signifikan.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Polewali Mandar, Muh. Sukri, dalam sebuah refleksi kebijakan pendidikan daerah. Ia menegaskan bahwa pendidikan Polman tidak boleh lagi sekadar “hadir secara administratif”, tetapi harus bergerak nyata membangun nalar dan daya pikir murid.

“Orang Mandar membangun sandeq bukan untuk terapung. Ia dirancang untuk membaca angin dan menentukan arah. Pendidikan juga demikian—tanpa literasi dan numerasi yang kuat, sekolah kehilangan kompas,” ujar Sukri. Kamis (22/1)

Berdasarkan Rapor Pendidikan nasional, sekolah-sekolah di Polman telah menunjukkan konsistensi dalam kehadiran siswa dan penyelenggaraan pembelajaran. Namun, capaian kemampuan membaca pemahaman dan bernalar matematis masih berada di bawah harapan.

Menurut Sukri, kondisi tersebut tidak bisa dibebankan kepada peserta didik semata. Persoalan utama justru terletak pada pendekatan pembelajaran yang terlalu menekankan keteraturan administratif, pelaporan, dan pemenuhan indikator formal.

“Ruang kelas harus menjadi pusat perubahan. Jika guru hanya menjadi pelaksana silabus, maka pembelajaran kehilangan ruhnya,” tegasnya.

Literasi dan Numerasi Harus Menjadi Arus Utama

Ia menekankan bahwa literasi dan numerasi bukan sekadar mata pelajaran, melainkan fondasi berpikir yang harus hadir di seluruh proses pembelajaran. Literasi mengajarkan murid membaca realitas, sementara numerasi membentuk kecakapan menimbang pilihan dan mengambil keputusan.

Tanpa dua kemampuan tersebut, pendidikan hanya bergerak di permukaan. Cepat, tetapi tidak sampai tujuan.

Baca Juga  STAIN Majene Buka Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur UMM Gelombang II Tahun Akademik 2024-2025

“Sekolah bisa aktif, laporan bisa rapi, tetapi jika murid tidak dilatih bernalar, maka sandeq pendidikan hanya berputar di tempat,” kata Sukri.

Menghadapi 2026, Dewan Pendidikan mendorong pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat untuk menjadikan Rapor Pendidikan sebagai pappasang—pesan peringatan—bukan sekadar dokumen arsip.

Prinsip sibaliparri atau kerja kolektif dinilai menjadi kunci. Reformasi pembelajaran tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan keberanian kebijakan untuk memindahkan fokus dari angka-angka semu ke praktik belajar yang bermakna.

“2026 bukan waktunya menambah laporan. Ini tahun menentukan arah. Pendidikan Polman harus berani melaju,” tegasnya.

Sandeq Pendidikan Harus Melaju

Muh. Sukri menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa kemajuan pendidikan Polewali Mandar hanya bisa dicapai jika pembelajaran benar-benar bergerak membangun nalar.

“Jika ingin maju, sandeq pembelajaran harus berlayar. Nalar menjadi layar, literasi dan numerasi menjadi kemudi. Tanpa itu, kita hanya bergerak—tanpa tujuan,” pungkasnya.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa tebal laporan yang dihasilkan, melainkan oleh seberapa tajam nalar yang dibentuk di ruang kelas. Polewali Mandar tidak kekurangan sekolah, guru, maupun program, tetapi masih menghadapi tantangan serius dalam memastikan pembelajaran benar-benar bermakna bagi peserta didik.

Jika tahun 2026 hanya diisi dengan rutinitas yang sama, maka pendidikan akan terus bergerak di tempat. Namun jika ada keberanian mengubah arah—menjadikan literasi dan numerasi sebagai jantung kebijakan—maka sandeq pendidikan Kabupaten Polewali Mandar bukan hanya akan berlayar, tetapi melaju menuju generasi yang berpikir kritis, mandiri, dan berdaya saing. (rls)

Editor: Basribas

Iklan