Hangat di Tengah Pembangunan: TMMD ke-127 Kodim 1402/Polman Rajut Kemanunggalan TNI–Rakyat di Desa Bulo
POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Deru alat kerja belum sepenuhnya reda ketika tawa prajurit dan warga pecah di tepian jalan poros Bulo–Lenggo. Di tengah kerasnya pengerjaan sasaran fisik program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127, terselip pemandangan yang tak kalah penting: kedekatan tanpa sekat antara TNI dan masyarakat.
Momen itu terlihat pada Jumat (13/2/2026) di Desa Bulo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar. Saat waktu istirahat tiba, sejumlah anggota Satgas TMMD memilih duduk melingkar bersama warga. Helm dan sepatu lars diletakkan di sisi jalan, sementara obrolan hangat mengalir tentang pengalaman penugasan, adat istiadat daerah, hingga dinamika kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Percakapan yang berlangsung santai tersebut mencerminkan wajah lain TMMD—bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi ruang perjumpaan yang memperkuat rasa persaudaraan.
Wakil Komandan Satgas TMMD ke-127 Kodim 1402/Polman, Kapten Inf Ahmad Yani, menegaskan bahwa komunikasi sosial menjadi elemen strategis dalam setiap pelaksanaan program terpadu TNI tersebut.
“Keberhasilan TMMD tidak hanya diukur dari rampungnya pembangunan fisik. Yang tak kalah penting adalah terbangunnya kemanunggalan TNI dengan rakyat. Di sela pekerjaan, anggota kami memanfaatkan waktu untuk berinteraksi agar kedekatan dengan masyarakat semakin kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran TMMD di wilayah pedesaan diharapkan mampu menghadirkan dampak berlapis—mulai dari percepatan pembangunan hingga penguatan ikatan emosional antara prajurit dan warga.
Suasana yang sebelumnya cenderung sunyi kini berubah lebih hidup. Canda dan tawa terdengar di sepanjang jalur yang sedang dikerjakan, menandakan hadirnya energi baru bagi desa yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
Kepala Dusun Lenggo, Ahmad, mengapresiasi interaksi yang terbangun selama program berlangsung. Menurutnya, masyarakat tidak hanya menikmati manfaat infrastruktur, tetapi juga memperoleh pengalaman sosial yang berharga.
“Kami merasakan langsung dampaknya. Jalan mulai terbuka, aktivitas warga lebih mudah, dan kami juga mendapat banyak pengetahuan. Anggota TNI datang dari berbagai daerah, sehingga kami bisa mengenal keberagaman budaya Indonesia lebih dekat,” katanya.
Ahmad berharap kedekatan tersebut tidak berhenti setelah program berakhir. Ia menilai semangat kebersamaan yang tumbuh selama TMMD dapat menjadi modal sosial untuk menjaga budaya gotong royong di tengah masyarakat.
Program TMMD ke-127 Kodim 1402/Polman sendiri mencakup pembangunan rabat beton, talud, serta peningkatan akses jalan yang sebelumnya sulit dilalui. Namun lebih dari itu, program ini dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan pembangunan dengan penguatan solidaritas sosial.
Di sela waktu rehat, obrolan santai antara prajurit dan warga terus mengalir—mulai dari kisah penugasan di daerah terpencil, tradisi lokal yang masih terjaga, hingga harapan masyarakat terhadap masa depan desa. Percakapan sederhana itu justru menjadi fondasi kuat bagi lahirnya rasa saling percaya.
Pada akhirnya, TMMD tidak hanya meninggalkan jejak berupa bangunan fisik, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan. Ketika jalan baru terbentang dan hubungan sosial kian erat, kemanunggalan TNI dan rakyat kembali menemukan maknanya: hadir, bekerja, dan tumbuh bersama demi kemajuan desa. (*rls)
Editor: Basribas



