Shared Berita

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Polewali Mandar kian mengkhawatirkan dan belum menunjukkan tanda mereda. Dalam tiga hari terakhir, antrean kendaraan di hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terus mengular sejak pagi hingga malam hari, mencerminkan tekanan serius pada pasokan energi di daerah tersebut.

Pantauan di lapangan memperlihatkan ribuan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, memadati SPBU dan rela mengantre berjam-jam demi memperoleh BBM, baik subsidi maupun non-subsidi. Fenomena ini tidak terjadi di satu titik saja, melainkan merata di sejumlah SPBU, menandakan persoalan distribusi yang bersifat sistemik. Rabu (1/4/2026)

Di sisi lain, kelangkaan BBM juga merambat ke tingkat pengecer. Penjual eceran yang sebelumnya mudah ditemukan di pinggir jalan kini menghilang bak di telan bumi. Jika pun tersedia, harga BBM melonjak tajam hingga mencapai Rp25.000 sampai Rp30.000 per botol, jauh di atas harga normal. Lonjakan ini mempertegas adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan di masyarakat.

Dampak krisis mulai terasa nyata pada aktivitas ekonomi warga. Ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor untuk bekerja, berdagang, hingga menjalankan aktivitas harian membuat kelangkaan BBM menjadi persoalan yang langsung memukul produktivitas.

Pada Rabu sore, antrean panjang terlihat di SPBU Sarampu, jalur strategis poros Trans Sulawesi. Deretan kendaraan roda dua memenuhi badan jalan, bahkan seorang ibu sambil menggendong anak balita ia antre demi memenuhi kebutuhan rumah tangga dan keperluan antar jemput anak sekolah.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku harus menunggu lebih dari dua jam untuk mendapatkan BBM. Ia terpaksa ikut antre karena stok di pengecer telah habis, sementara kendaraan menjadi kebutuhan utama untuk aktivitas sehari-hari.

Situasi ini memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat. Krisis BBM dinilai berpotensi mengganggu sektor transportasi, distribusi barang, hingga stabilitas ekonomi lokal jika tidak segera ditangani.

Baca Juga  Gerakan Moderasi Beragama Libatkan Komunitas Literasi se-Polewali Mandar

Kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi pemerintah dan pihak terkait. Masyarakat mendesak adanya langkah cepat, konkret, dan transparan untuk mengatasi kelangkaan yang terus berulang. Keterbukaan informasi dinilai penting agar publik tidak dibingungkan oleh perbedaan antara pernyataan resmi dan realitas di lapangan.

Jika dibiarkan berlarut, krisis BBM dikhawatirkan akan meluas dan berdampak lebih dalam terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat di Polewali Mandar. (*Mull)

Editor: Basribas

Iklan