Tausiyah Menggetarkan di Maros: Ustadz Kamsier Ingatkan Tiga Kepastian Usai Kematian, Jamaah Tersentuh
MAROS, Sulbarpos.com – Suasana haru dan penuh perenungan menyelimuti kediaman almarhum Rais Bin Bado di Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Rabu (8/4/2026). Momentum ta’siyah ini menjadi lebih bermakna saat Ustadz Kamsier Alamchamsier menyampaikan tausiyah yang menggugah kesadaran jamaah tentang hakikat kehidupan dan kematian.
Dalam ceramahnya, Ustadz Kamsier menegaskan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada tiga hal utama setelah meninggal dunia. Pertama, ruh akan kembali kepada Allah SWT. Kedua, seluruh amal perbuatan—baik maupun buruk—akan kembali kepada diri masing-masing sebagai bentuk pertanggungjawaban. Ketiga, jasad manusia akan kembali ke tanah.
“Kematian adalah kepastian. Waktunya sudah ditentukan dan tidak bisa dimajukan maupun ditunda,” tegasnya di hadapan keluarga dan masyarakat yang hadir.
Ia juga mengingatkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan, melainkan harus dijadikan sebagai pengingat untuk memperbaiki diri. Menurutnya, setiap manusia harus mempersiapkan bekal sebelum ajal tiba, dengan memperbanyak amal ibadah dan menjaga keikhlasan dalam setiap perbuatan.
“Jangan menunggu waktu. Amal itu harus dipersiapkan sejak sekarang. Karena ketika kalimat ‘Lailaha illallah’ menjadi penutup hidup, hanya amal yang akan menyelamatkan,” ujarnya.
Acara ta’siyah tersebut dihadiri oleh keluarga besar almarhum, tokoh masyarakat, serta warga sekitar yang datang memberikan doa dan dukungan moral. Kehadiran mereka mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selain sebagai bentuk belasungkawa, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama tentang arti kehidupan. Kematian tidak hanya dipandang sebagai peristiwa kehilangan, tetapi juga sebagai pelajaran berharga bagi yang masih hidup.
Momentum ini mengingatkan bahwa setiap insan akan menyusul tanpa terkecuali. Oleh karena itu, memperbanyak amal saleh, menjaga keikhlasan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta menjadi bekal terbaik dalam menghadapi kehidupan setelah dunia.
Mengingat kematian, sebagaimana disampaikan dalam tausiyah tersebut, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meneguhkan langkah hidup agar lebih bermakna. Sebab, sebaik-baik bekal menuju akhirat adalah amal saleh yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. (*Mull)
Editor: Basribas



