Shared Berita

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Suasana khusyuk malam ke-11 Ramadan 1447 Hijria di Masjid Jami Taqwa, Kelurahan Mandate, Kecamatan Polewali, mendadak berubah reflektif.

Di hadapan ratusan jamaah tarawih, Ustaz Adam HR melontarkan kegelisahan yang menyentuh dunia pendidikan di Polewali Mandar: guru kini berada di persimpangan sulit antara menegakkan disiplin dan menghadapi risiko laporan hukum.

Ceramah yang digelar pada Sabtu malam itu tidak sekadar mengulas nilai spiritual Ramadan, tetapi juga menyoroti realitas sosial yang tengah dihadapi tenaga pendidik.

Ustaz Adam menegaskan, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, melainkan proses membentuk akhlak dan karakter generasi muda.

Menurutnya, guru memikul tanggung jawab moral sekaligus profesional untuk membina dan mengarahkan siswa. Namun dalam praktiknya, ketika guru mengambil langkah pendisiplinan terhadap pelanggaran aturan, tindakan tersebut kerap disalahartikan.

Tidak sedikit kasus berujung pada pelaporan ke aparat penegak hukum, sehingga menimbulkan tekanan psikologis dan rasa takut berlebihan di kalangan pendidik.

“Kondisi ini membuat guru ragu bertindak. Padahal, membiarkan pelanggaran tanpa pembinaan tegas justru bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri,” tegasnya di hadapan jamaah. Sabtu (28/2/26)

Ia menjelaskan, pendidikan sejatinya bertujuan membentuk pribadi yang beradab, bertanggung jawab, dan memiliki akhlak mulia. Ketika guru kehilangan keberanian untuk menegakkan aturan karena khawatir dikriminalisasi, maka proses pembentukan karakter terancam melemah.

Dalam ceramahnya, Ustaz Adam juga menggarisbawahi pentingnya membangun kesepahaman antara sekolah dan keluarga. Ia menilai, pendidikan berkeadaban tidak mungkin berjalan optimal apabila guru dibiarkan bekerja sendiri tanpa dukungan orang tua.

Orang tua, lanjutnya, perlu memandang guru sebagai mitra strategis dalam mendidik anak, bukan pihak yang patut dicurigai setiap kali mengambil tindakan pembinaan.

Baca Juga  Kunjungan ke UGM, Sekprov Muhammad Idris: Pembudayaan SPBE Harus Kita Capai

Komunikasi terbuka, rasa saling percaya, serta komitmen bersama menjadi fondasi utama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat.

“Sinergi sekolah dan keluarga adalah kunci. Tanpa itu, kita hanya akan sibuk menghindari masalah, bukan menyelesaikan akar persoalan,” ujarnya.

Ceramah tersebut mendapat respons positif dari jamaah yang hadir. Sejumlah orang tua mengaku tersentuh dan sepakat bahwa pendidikan karakter harus menjadi tanggung jawab bersama.

Sebagai penutup, Ustaz Adam mengingatkan bahwa Ramadan merupakan momentum terbaik untuk melakukan refleksi, termasuk dalam membenahi pola pendidikan anak.

Ia berharap Polewali Mandar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan berkeadaban.

Peran orang tua menjadi faktor penentu dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Tanpa kolaborasi yang harmonis antara keluarga dan sekolah, proses pembinaan karakter akan berjalan pincang.

Dukungan, pemahaman, dan komunikasi yang sehat antara kedua pihak menjadi pondasi utama untuk menciptakan sistem pendidikan yang adil, aman, dan berorientasi pada masa depan anak. (*rls)

Editor: Basribas

Iklan