Shared Berita

”Analisis tajam konflik Iran–AS dan Israel sebagai pertaruhan baru tatanan dunia. Bagaimana sikap Indonesia dan peran diplomasi Presiden Prabowo penting untuk mengantisipasi eskalasi perang global.”

Oleh: Alauddin, S.H

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Konfrontasi yang kian terbuka antara Iran dan Amerika Serikat bersama Israel bukan sekadar konflik regional. Perang ini mencerminkan pergeseran serius dalam tatanan geopolitik global dan menjadi penanda babak baru persaingan kekuatan dunia. Di balik dentuman senjata, tersimpan strategi besar yang berpotensi menyeret banyak negara lain ke dalam pusaran konflik.

Berbagai spekulasi berkembang, namun satu hal patut dicermati: konflik ini didesain untuk memancing keterlibatan negara-negara lain, terutama negara Teluk serta para sekutu Iran. Dengan skenario tersebut, Amerika dan Israel berpotensi memperoleh legitimasi politik dan militer untuk melakukan intervensi lebih luas, kerap dengan standar ganda yang selama ini menjadi ciri diplomasi global mereka.

Dalam situasi genting ini, kehati-hatian para kepala negara menjadi kunci utama. Kesalahan kalkulasi sekecil apa pun dapat memicu eskalasi perang yang jauh lebih besar dan sulit dikendalikan. Oleh karena itu, pilihan untuk menahan diri dan mengedepankan diplomasi adalah langkah paling rasional demi mencegah konflik berskala global.

Sikap Presiden Prabowo Subianto yang membuka ruang kerja sama strategis dengan Amerika Serikat patut dibaca sebagai upaya melindungi kepentingan nasional agar Indonesia tidak terseret langsung ke dalam konflik ini.

Pada saat yang sama, Indonesia juga tidak sepenuhnya menutup mata terhadap Iran, meski dukungan tersebut tidak diekspresikan secara formal dalam hubungan kenegaraan. Pendekatan seimbang ini menunjukkan politik luar negeri yang adaptif dan penuh perhitungan.

Baca Juga  Optimisme Tim Andi Masri Masdar Menguat dengan Dukungan Tujuh Partai Politik di Pilkada Polman

Lebih dari itu, langkah Presiden Prabowo yang mengedepankan diplomasi dan menawarkan diri sebagai mediator internasional merupakan pilihan strategis yang patut diapresiasi. Upaya ini semestinya diikuti secara kolektif oleh negara-negara lain demi meredam potensi pecahnya perang dunia dengan skala yang jauh lebih destruktif.

Sejarah menunjukkan bahwa bila perang dunia meletus, negara-negara dengan sumber daya alam melimpah akan menjadi sasaran baru perebutan kepentingan. Perang modern membutuhkan energi, logistik, dan bahan mentah dalam jumlah besar—dan negara berkembang kaya SDA kerap menjadi medan tempur baru. Dalam konteks ini, Indonesia jelas berada dalam posisi rawan.

Karena itu, selain diplomasi, penguatan pertahanan dan kesiapan militer menjadi keniscayaan. Bukan untuk agresi, melainkan sebagai langkah antisipatif menghadapi kemungkinan terburuk di masa depan. Dunia hari ini bergerak menuju ketidakpastian yang tinggi, dan kesiapan nasional adalah bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan rakyat.

Perang di masa mendatang mungkin tidak sepenuhnya bisa dihindari. Namun bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu “mengambil napas” sejenak—mempersiapkan diri, memperkuat daya tawar, dan menjaga kedaulatan di tengah pusaran konflik global.

Catatan Penulis:
Penulis merupakan aktivis muda Muhammadiyah, saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Forum Pemuda Bahari Indonesia (FPBI).

Editor: Basribas

Iklan