YOGYAKARTA, Sulbarpos.com — Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) resmi bertransformasi menjadi Politeknik Agraria STPN. Perubahan kelembagaan ini menandai babak baru pendidikan tinggi vokasi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang di Indonesia.
Peresmian Politeknik Agraria STPN ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, didampingi Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN Ossy Dermawan, Sekretaris Jenderal Dalu Agung Darmawan, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Agustyarsyah, serta Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad.
Prosesi tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian dan penyerahan bendera dari Menteri ATR/Kepala BPN kepada Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN.
Peresmian yang berlangsung di Pendopo Sasana Widya Bhumi Politeknik Agraria STPN, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026), dirangkaikan dengan wisuda 568 taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN.
Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid mengatakan, Politeknik Agraria STPN menjadi satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Indonesia yang secara khusus mengembangkan pendidikan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
“Politeknik Agraria STPN merupakan satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Indonesia yang bergerak secara khusus mengembangkan pendidikan bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” ujar Nusron.
Menurut Nusron, selama puluhan tahun STPN telah berkontribusi melahirkan ribuan tenaga profesional yang kemudian mengabdi di Kementerian ATR/BPN maupun di berbagai bidang lainnya.
Besarnya kontribusi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat kelembagaan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di Politeknik Agraria STPN.
Ia menyebut proses transformasi yang telah diperjuangkan selama beberapa tahun kini memasuki tahap akhir. Perubahan bentuk kelembagaan, penataan organisasi, pengembangan kurikulum vokasi, pembukaan program studi baru hingga penyelenggaraan pendidikan telah dilakukan dan berjalan.
“Proses transformasi yang selama beberapa tahun terakhir kita perjuangkan, saat ini sudah mencapai tahap akhir. Perubahan bentuk kelembagaan, penataan organisasi, pengembangan kurikulum vokasi, pembukaan program studi baru, sampai dengan penyelenggaraan pendidikan telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik,” kata Nusron.
Meski demikian, proses pembahasan dan penetapan statuta Politeknik Agraria STPN masih berlangsung di Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Kementerian ATR/BPN memastikan proses tersebut akan terus dikawal hingga tuntas.
Transformasi kelembagaan tersebut juga diikuti dengan pengembangan program pendidikan. Tiga program studi baru yang mulai diselenggarakan pada tahun akademik 2025/2026 telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Ketiga program studi tersebut meliputi Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan, Program Studi Sarjana Terapan Survei Pemetaan dan Informasi Pertanahan, serta Program Studi Sarjana Terapan Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah.
Nusron menilai capaian akreditasi tersebut menjadi bagian penting dari upaya Politeknik Agraria STPN meningkatkan mutu pendidikan sekaligus menyesuaikan kompetensi lulusan dengan perkembangan kebutuhan di lapangan.
“Transformasi ini harus kita lihat sebagai proses untuk membuat pendidikan di Politeknik Agraria STPN semakin relevan dengan kebutuhan lapangan,” tuturnya.
Ia berharap kurikulum dan sistem pembelajaran di Politeknik Agraria STPN terus berkembang secara adaptif. Kampus tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknis, tetapi juga menjadi ruang berkembangnya gagasan, inovasi teknologi, serta solusi terhadap berbagai persoalan agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Kementerian ATR/BPN berkomitmen memberikan dukungan terhadap penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana, serta pembiayaan yang diperlukan.
“Kementerian ATR/BPN akan terus memberikan dukungan terhadap penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana, serta pembiayaan yang diperlukan untuk memperkuat Politeknik Agraria STPN,” ujar Nusron.
Sementara itu, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad mengatakan perubahan bentuk kelembagaan dari STPN menjadi Politeknik Agraria STPN merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan seluruh civitas academica.
Menurut Sri Yanti, transformasi tersebut sekaligus ditandai dengan pembukaan tiga program studi baru yang dirancang untuk memperkuat keilmuan dan kompetensi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Pembukaan ketiga program studi itu juga menjadi wujud komitmen Politeknik Agraria STPN dalam memenuhi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2022.
Sri Yanti menyebut peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan wisuda perdana menjadi momentum penting dalam perjalanan lembaga pendidikan tersebut.
“Peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan wisuda perdana ini menjadi momentum penting yang menandai babak baru dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi serta menguatkan peran Politeknik Agraria STPN dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan profesional di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” pungkasnya.
Dalam rangkaian peresmian dan wisuda perdana tersebut, Politeknik Agraria STPN juga memberikan penghargaan kepada Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM, Heri Mulianto, sebagai pencipta Hymne Politeknik Agraria STPN.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi se-Indonesia beserta jajaran. (*rls)
Editor: Basribas




