Shared Berita

Sulbarpos.com, MAMUJU — Perekonomian Sulawesi Barat tumbuh 5,20 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026. Meski tetap berada di zona positif, angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang mencapai 5,35 persen.

Data tersebut disampaikan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Barat dalam kegiatan SIPAKADA Media bertajuk Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam rangka Diseminasi Perekonomian Terkini, Kamis, (24/9/2026).

Pertumbuhan ekonomi Sulbar pada triwulan II 2026 juga tercatat sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,29 persen.

BI mencatat perlambatan terutama terjadi pada sejumlah sektor utama. Dari sisi lapangan usaha, pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan menjadi sektor yang mengalami perlambatan pertumbuhan.

Di sektor pertanian, perlambatan dipengaruhi produksi perkebunan, terutama kelapa sawit, serta kontraksi produksi perikanan dan tanaman pangan. Namun, peningkatan produksi hortikultura dan peternakan mampu menahan perlambatan yang lebih dalam.

Pada industri pengolahan, perlambatan terjadi seiring menurunnya produksi crude palm oil (CPO) dan produk turunannya. Kondisi tersebut berkaitan dengan perlambatan pertumbuhan bahan baku berupa tandan buah segar (TBS) sawit serta dampak rancangan kebijakan ekspor satu pintu.

Sementara itu, sektor perdagangan ikut terdampak perlambatan arus komoditas tanaman pangan dan perkebunan. Penjualan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, juga mengalami kontraksi.

Konstruksi Jadi Penopang

Di tengah perlambatan sejumlah sektor, BI mencatat beberapa sektor justru menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sulbar.

Baca Juga  Kapolda Sulbar : Pemerintah Bersama TNI/Polri Siap Kolaborasi Tingkatkan Ketahanan Pangan

Sektor konstruksi mengalami peningkatan, terutama didorong belanja modal untuk pembangunan jalan, jembatan, serta bangunan gedung yang bersumber dari APBN.

Sektor administrasi pemerintahan juga mengalami akselerasi. Salah satu faktor pendorongnya adalah peningkatan jumlah aparatur sipil negara (ASN) dan kebijakan pemberian tunjangan gaji ke-13 bagi ASN.

Dari sisi pengeluaran, perlambatan pertumbuhan terutama berasal dari konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.

BI menyebut konsumsi rumah tangga mengalami normalisasi setelah tingginya aktivitas masyarakat pada Ramadan dan Idulfitri pada triwulan sebelumnya. Penjualan barang tahan lama, termasuk mobil dan sepeda motor, juga melambat.

Sementara konsumsi pemerintah terpengaruh penurunan Social Transfer In Kind (STIK) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), seiring sejumlah SPPG di Sulbar belum kembali beroperasi setelah sebelumnya ditutup sementara dalam rangka evaluasi BGN.

Sebaliknya, investasi dan ekspor menjadi salah satu pendorong pertumbuhan. Investasi pemerintah dan swasta terutama mengalir pada proyek jalan, jembatan, bangunan gedung, termasuk pembangunan SPPG dan KDKMP.

Ekspor CPO juga meningkat seiring kenaikan harga CPO global pada triwulan II 2026. Kondisi tersebut membantu menopang kinerja ekspor meski produksi industri pengolahan CPO mengalami perlambatan.

BI Proyeksikan Ekonomi Sulbar Tumbuh hingga 6,20 Persen

Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Sulawesi Barat sepanjang 2026 masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulbar berada pada kisaran 5,20-6,20 persen secara cumulative to cumulative (ctc). Angka tersebut berada di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional 2026 yang berada pada kisaran 4,90-5,70 persen.

BI memperkirakan sektor perdagangan, konstruksi, dan administrasi pemerintahan akan mengalami peningkatan pertumbuhan. Sementara sektor pertanian dan industri pengolahan diperkirakan tetap tumbuh, tetapi cenderung melandai.

Pertanian masih berpotensi tumbuh positif berkat dukungan sektor perikanan dan hortikultura. Namun, risiko El Nino menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi menekan produksi sawit dan pangan.

Baca Juga  Kontrol Terhadap LHP, PJ Gubernur Bahtiar Apresiasi Kinerja DPRD Sulbar

Industri pengolahan juga diperkirakan tetap tumbuh positif, meski menghadapi risiko penurunan produksi CPO akibat replanting sawit. Tren harga CPO yang masih baik dinilai dapat menahan perlambatan lebih dalam.

Sementara sektor perdagangan diproyeksikan meningkat seiring potensi kenaikan arus komoditas hortikultura dan perikanan, penguatan distribusi barang, serta terjaganya konsumsi masyarakat.

Sektor konstruksi mendapat dukungan dari berbagai proyek infrastruktur pemerintah, termasuk sekolah rakyat, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan pembangunan sejumlah ruas jalan.

Inflasi Sulbar 2,29 Persen

Dari sisi stabilitas harga, Sulawesi Barat mencatat inflasi 0,11 persen secara bulanan (mtm) pada Agustus 2026.

Secara tahunan, inflasi Sulbar tercatat 2,29 persen (yoy), sedangkan inflasi tahun berjalan mencapai 2,28 persen (ytd).

Beberapa komoditas menjadi penyumbang inflasi, antara lain cabai rawit, cabai merah, ikan layang, bawang merah, serta pelumas.

BI mencatat kenaikan harga ikan dipengaruhi berkurangnya pasokan akibat aktivitas melaut nelayan yang terganggu kondisi cuaca dan gelombang laut. Sementara kenaikan harga cabai, pisang, dan telur ayam ras dipengaruhi berkurangnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi.

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami deflasi, seperti tomat, bawang merah, cabai merah, bawang putih, dan beras. Peningkatan pasokan dari daerah sentra produksi menjadi salah satu faktor penurunan harga komoditas tersebut.

BI menyatakan inflasi Sulawesi Barat masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, sejalan dengan perkembangan inflasi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

BI Pertahankan BI Rate 5,75 Persen

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen.

Suku bunga Deposit Facility ditetapkan sebesar 4,75 persen, sementara Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Baca Juga  Antusias Warga Kecamatan Kalukku Deklarasikan Muhaimin Iskandar Maju Capres 2024

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi. BI juga menekankan penguatan koordinasi dengan pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan berbagai pemangku kepentingan.

UMKM Jadi Bagian Strategi Ekonomi Sulbar

Selain menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi, BI Sulbar mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui ekosistem Mandarpreneur.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat legalitas, kelembagaan, kesiapan dasar usaha, produktivitas, digitalisasi, hingga akses pembiayaan dan pasar.

Salah satu agenda yang menjadi bagian dari strategi tersebut adalah Mandarpreneur Fair 2026 yang digelar pada 24-26 September 2026 di Mamuju Town Square, Mamuju.

Kegiatan tersebut menghadirkan pameran 24 UMKM, live selling, onboarding ke lokapasar dan kanal pemasaran digital, layanan legalitas serta pembiayaan, business matching, hingga berbagai talkshow dan kompetisi.

BI menargetkan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk lokal, tetapi juga memperluas akses pasar, pembiayaan, dan kemitraan bagi pelaku UMKM Sulbar.

Dengan kombinasi pengendalian inflasi, penguatan investasi, pembangunan infrastruktur, peningkatan ekspor, serta pengembangan UMKM, BI melihat ekonomi Sulawesi Barat masih memiliki peluang untuk tumbuh lebih kuat hingga akhir 2026. (*)

Iklan