Shared Berita

Sulbarpos.com, Jakarta – Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Sulawesi Barat (KWMSB) menggelar diskusi daring bertajuk “Rindu dan Derita: Membaca Jalaluddin Rumi di Era Keterasingan” via Zoom pada Ahad, (15/03/26).

Menghadirkan dua pembicara handal (pengkaji dan pencinta Maulana Rumi) Muhammad Zain, kepala biro SDM Kemenag RI juga Ketum BPP-KKMSB dan Ustadz Muhammad Nur Jabir, Direktur Rumi Institute juga penerjemah Kitab Matsnawi (Persia).

Webinar yang dihadiri hampir 500 peserta online ini mencoba untuk menafsir ulang pemikiran sufistik Jalaluddin Rumi, dalam konteks homo digitalis yang semakin terasing akibat percepatan teknologi.

Para narasumber menyoroti tiga kata kunci dalam karya Rumi: Cinta, Rindu, dan Derita. Muhammad Zain menjelaskan tradisi tasawuf, bahwa rindu bukan perasaan tabiat, ia adalah energi spiritual yang menggerakkan manusia untuk kembali kepada asalnya.

“Rumi menggambarkan rindu dan derita melalui metafora seruling bambu (Nei) yang merintih karena terpisah dari rumpunnya,” kata Zain.

“Manusia digital hari ini seperti seruling, ia menderita karena terpisah dari Penciptanya” sambungnya.

Zain menerangkan bahwa kerap kali manusia berbunyi, berbicara, bahkan sangat bising di ruang digital, namun sesungguhnya sedang merintih karena kehilangan akar maknanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Muh. Nur Jabir juga memaparkan bahwa Cinta, Rindu, dan Derita ditujukan hanya kepada Allah, bukan selain-Nya. Semua manusia bersumber dari yang Satu, (Balaa Syahidna), kemudian terpisah di dunia dan menderita Rindu.

“Kenapa ada derita? karena manusia sedang berjarak dan berjalan menuju kepada Pencipta, dimensi Ruh yang berjalan, bukan fisik,” ucap Nur Jabir sambil mengutip Q.S. Al-Fajr: 27-28.

Jiwa merana dengan rindu, sementara fisik menderita dengan taat. Jiwa senang dengan ibadah, sementara fisik senang dengan nafsu. Itulah mengapa badan terasa kantuk dan lemas saat diajak beribadah (Derita Ekstensial).

Baca Juga  Ade Armando Komentari Kemunculan Ganjar Pranowo di Adzan TV

“Tanpa luka, hati seringkali tertidur dalam kenyamanan, kita butuh derita agar terlepas dari kenyamanan duniawi. Rumi berkata: Ranj panjereh-i ast ke nur az an be darun mi-âyad. Derita adalah jendela, dimana cahaya masuk ke dalam,” sambungnya.

Ia mengutip ayat Wastainu bi as-Shabri wa As-Shalah, yang mendahulukan sabar sebelum shalat, artinya seseorang yang menghadap Ilahi, mesti memeluk derita terlebih dahulu. Derita itu perlahan menjadi cinta, ibadah dengan cinta tidak akan terjebak pada rutinitas belaka.

Sementara itu, Ketua BPP-KWMSB, Asriaty Alda Zain, menyebutkan bahwa diskusi daring tersebut merupakan salah satu rangkaian program kegiatan Ramadhan yang digelar organisasi.

Menurutnya, Ramadhan bukan hanya momentum meningkatkan ibadah, tetapi juga waktu yang tepat untuk memperkaya refleksi intelektual dan spiritual. Termasuk pemikiran sufistik dari Jalaluddin Rumi.

“Rumi mengajarkan bahwa derita dan kerinduan adalah jalan manusia untuk kembali menemukan makna hidup dan kedekatan dengan Tuhan,” ujarnya.

Melalui diskusi tersebut, ia berharap peserta dapat melihat kembali nilai-nilai spiritual yang diajarkan para sufi sebagai sumber kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan masa kini. (*)

Iklan