Shared Berita

 

Oleh: Andi Muhammad Ikbal Salam,. M.Fil.I

 

OPINI – Definisi Hijrah
Hijrah secara bahasa berarti “perpindahan” atau “perubahan”. Dalam konteks spiritual, hijrah merujuk pada perpindahan dari keadaan yang tidak baik ke keadaan yang lebih baik, atau dari keadaan yang jauh dari Tuhan ke keadaan yang lebih dekat dengan Tuhan.

Makna Filosofis Hijrah
Hijrah secara filosofis dapat diartikan sebagai proses perubahan diri yang fundamental, di mana seseorang meninggalkan kebiasaan, pola pikir, atau perilaku yang tidak baik dan beralih ke arah yang lebih baik. Hijrah juga dapat diartikan sebagai proses pencarian jati diri dan identitas yang lebih autentik.

Hijrah Epistemik: Kaitan dengan hijrah pola pikir, adalah berpindah dari cara pandang yang sempit, literal dalam memahami atau mengungkap makna. Misal, memahmai ibadah sebagai praktik ritual yang tidak hanya menitik beratkan pada dimensi lahir.

Tapi, berorientasi pada makna batin dari ibadah. Sholat misalnya, secara lahir adalah gerakan yang dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat yang demikian bisa terjebak pada yang dikecam oleh Allah dalam Qs. Al Ma’un.

Celakalah orang yang shalat, orang-orang yang lalai, riya, dan enggan untuk berbagi dengan sesuatu yang berguna. Ayat ini jelas menitik beratkan shalat bukan hanya pada aspek ritual.

Namun, shalat secara substantif, tidak lalai dari apa makna bacaan shlat, tidak terjebak dalam riya, dan bermanfaat bagi manusia yang lain melalui memberi, berbagi akan apa yang kita punya demi kebaikan, kemanusiaan. Bukan malah mencaci, menyesatkan mereka yang berbeda dengan mereka.

Hijrah Praktis: Hijrah secara praktik tentu erat kaitannya dengan hijrah epistemik. Bagaiman interaksi kita terhadap golongan, atau penganut kepercayaan yang berbeda dengan kita. Apakah, menyalahkan? Atau menyandarkan pada satu sandaran konsep bahwa perbedaan adalah rahmat. Karenanya silakan mengekspresi keyakinan masing-masing dengan prinsip yang penting adalah kedamaian, ketentraman.

Baca Juga  Toleransi Dalam Penyelenggaraan Pemilu

Hijrah secara praktis adalah berpindah dari cenderung menutup diri untuk membangun persatuan dengan yang berbeda menuju pada upaya bersama dalam perbedaan demi tujuan yang lebih universal, seperti kemanusiaan, keadilan, kebenaran.

Tidak lagi terjebak dalam praktik yang sektarian, dan gruduk ekspresi keyakinan yang berbeda dengan apa yang mereka yakini.

Tapi mencoba untuk beranjak lebih dalam lagi melihat ritual yang berorientasi pada pembentukan karakter atau akhlak.

Jadi, hijrah membawa kita menuju pada cara pandang yang lebih holistik, ketimbang pandangan yang cenderung sempit dan literal.

Selanjutnya, ada peristiwa besar hijrah yang bisa kita ambil spiritnya. Yakni, hijrah yang dilakukan oleh Imam Husain as. Dimana ia bertolak dari Madinah menuju Karbala demi menegakkan keadilan, melawan dan merobohkan kezaliman.

Hijrah ini adalah hijrah secara totalitas. Hijrah dengan ke-Imanan, harta, dan jiwa. Yang di dalam al-Qur’an disebutkan sebagai pencapaian agung. Meneguk air syahadah meski dengan bersimbah luka, darah dan air mata. Demi tegaknya ajaran Muhammadi.

Tapi melalui peristiwa ini menjadikan akar sejarah kebenaran dan kebaikan kokoh.
Menjadi martir, demi pembeda antara perbuatan zalim dan manusiawi, duniawi dan ukhrawi.

Sebagaimana yang terjadi pada tragedi Habil dan Qabil. Perseteruan antara kebenaran dan kebatilan. Untuk menjadi jalan terang bagi umat manusia setelahnya, apakah ia akan memilih berdaulat dengan kezaliman, atau berdiri dalam barisan perlawanan.

Ayat berikut ini patut menjadi renungan, kepada peristiwa apa ayat ini merujuk. Salah satu tafsir, dalam tafsir al-Allamah Thaba’thaba’i, ayat ini menunjuk pada peristiwa besar yang bernama KARBALA.

“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah orang-orang yang diangkat derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS At-Taubah: 20)

 

Baca Juga  Tiga Poin Pokok Yang Harus Diperhatikan Pemerintah Dalam Tangani Permasalahan Buruh 

(Penulis adalah Dosen Filsafat Unsulbar)

Iklan