Jelang Lebaran 1447 H, DPRD Polman Soroti Antrean BBM dan Wanti-Wanti SPBU: Prioritaskan Kendaraan Umum, Stop Praktik Langsir
POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Menjelang arus mudik Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Polewali Mandar menyoroti antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
DPRD meminta pengelola SPBU memprioritaskan pengisian bahan bakar bagi kendaraan umum dan angkutan barang guna mencegah potensi penimbunan oleh oknum tertentu.
Sorotan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Polewali Mandar, Amiruddin, yang mengingatkan agar distribusi bahan bakar minyak (BBM) menjelang Lebaran tetap terjaga dan tidak dimanfaatkan oleh pihak yang melakukan penimbunan melalui pengisian menggunakan jerigen maupun kendaraan yang sengaja bolak-balik mengisi BBM.
“Utamakan kendaraan umum di momen mudik jelang Lebaran. Jangan sampai kebutuhan masyarakat terganggu karena adanya pihak yang memanfaatkan situasi untuk menimbun BBM,” ujar Amiruddin saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (12/3/2026).
Peringatan tersebut muncul setelah beberapa hari terakhir antrean kendaraan terlihat memadati salah satu SPBU di Kelurahan Lantora, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar. Antrean kendaraan bahkan dilaporkan mengular hingga sekitar 500 meter dan menyebabkan arus lalu lintas di Jalan Trans Sulawesi tersendat.
Kondisi tersebut terjadi sejak pagi hingga siang hari. Puluhan kendaraan, mulai dari mobil pribadi hingga truk angkutan barang, terpaksa menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM, khususnya jenis solar yang banyak digunakan oleh kendaraan logistik.
Tumpukan kendaraan di sekitar SPBU juga berdampak pada kelancaran arus lalu lintas. Antrean terlihat memanjang dari dua arah jalan sehingga memperlambat pergerakan kendaraan yang melintas di jalur utama tersebut.
Sejumlah pengendara mengaku sengaja datang lebih awal karena khawatir tidak kebagian BBM. Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah beredar informasi mengenai potensi gangguan pasokan minyak dunia akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Salah seorang sopir truk yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah mengantre sejak pagi untuk memastikan kendaraannya bisa mendapatkan solar.
“Biasanya pasokan solar baru datang siang hari. Jadi kami terpaksa menunggu lebih lama supaya tidak kehabisan,” ujarnya.
Para sopir juga mengeluhkan lamanya antrean, terlebih di tengah kondisi bulan Ramadan. Meski demikian, mereka tetap bertahan menunggu karena BBM menjadi kebutuhan utama untuk melanjutkan perjalanan dan mengangkut barang.
Menurut pengakuan sejumlah sopir, antrean panjang tersebut bukan hanya terjadi sehari, tetapi sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, sebagian warga menyampaikan kekhawatiran terkait ketersediaan BBM di wilayah Polewali Mandar. Mereka berharap distribusi tetap berjalan normal sehingga tidak terjadi kelangkaan yang berujung pada antrean panjang, terutama selama bulan Ramadan hingga menjelang Idulfitri.
Wakil Ketua DPRD Polman juga menegaskan pentingnya pengawasan ketat dari pihak terkait terhadap aktivitas pengisian BBM di SPBU. Pengawasan ini dinilai perlu untuk mencegah praktik “langsir” BBM yang kerap dilakukan menggunakan kendaraan tertentu yang keluar masuk SPBU secara berulang.
Menurutnya, praktik tersebut berpotensi memicu kelangkaan di tingkat konsumen apabila tidak dikendalikan sejak dini.
“Jika ada kendaraan yang sengaja bolak-balik mengisi BBM untuk kepentingan penimbunan atau penjualan kembali, tentu harus menjadi perhatian serius. SPBU perlu selektif dalam melayani pengisian,” tegasnya.
Menjelang musim mudik Lebaran, kebutuhan BBM biasanya mengalami peningkatan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas distribusi barang.
Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan penimbunan melalui pengisian menggunakan jerigen atau kendaraan yang berulang kali masuk ke SPBU.
Karena itu, pengawasan terhadap distribusi BBM dinilai penting agar pasokan tetap terjaga dan dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat, terutama pengemudi kendaraan umum, sopir angkutan barang, serta warga yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari. (*rls)
Editor: Basribas



