Shared Berita
Table of contents: [Hide] [Show]

Oleh: Mu’min

Sulbarpos.com, Opini – Dalam 24 hari pertama perang, Koalisi AS-Israel belum berhasil mencapai satupun dari tujuan-tujuan strategisnya. Rezim tidak berganti, fasilitas pengayaan uranium masih aman, kota-kota rudal bawah tanah tetap aktif bahkan sampai detik ini Iran sudah meluncurkan 76 kali gelombang serangan.

Dan paling strategis, Iran masih memiliki kontrol penuh dan supremasi atas selat Hormuz.

AS-Israel terjebak dalam escalation trap, suatu kondisi dimana perang gagal mencapai tujuan strategisnya (strategic failure), meskipun secara taktik berhasil (tactical success) dan Intensitas serangan akan terus meningkat, biasanya diikuti dengan serangan seranggan balasan yang lebih keras (enemy lashes back). Situasi ini akan memperluas spektrum eskalasi yang dapat berubah menjadi perang regional.

Dalam sejarah perang modern, pasukan AS selalu mendominasi setiap pertempuran. Tapi AS memiliki sejarah pahit ketika melakoni perang berkepanjangan. AS kalah dalam perang 18 tahun melawan Vietnam utara, AS juga kalah melawan Taliban dalam perang 20 tahun di Afganistan.

Jika perang AS-Israel melawan Iran berlarut-larut, kemungkinan AS akan kembali terjebak dalam situasi ‘quagmire’ situasi yang sama seperti di Vietnam dan Afganistan.

Kontrol atas selat Hormuz menjadi kartu truf bagi Iran. 20% kebutuhan energi global mengalir di selat ini setiap hari. Efek kupu-kupu penutupan selat Hormuz telah terasa di 85 negara, termasuk di berbagai negara bagian Amerika Serikat. Semakin lama selat itu ditutup berarti tekanan terhadap ekonomi global semakin besar. Iran seolah ingin membagi beban derita akibat agresi ilegal ini ke seluruh dunia. Dan berharap tekanan global akan berbalik ke pihak agresor.

Baca Juga  Kapolda Sulbar Hadiri Rapat Persiapan Pilkada 2024, Irjen Pol Adang Ginanjar : Siap Berikan Dukungan Penuh Sukseskan Agenda Demokrasi

Strategi endurance power Iran menjadi langkah oposisi yang cerdik dalam mengelola skalasi perang ini. Iran cukup bertahan selama mungkin dalam perang, mengulur waktu, menguras resources musuh, tidak harus menang cepat, tapi juga tidak boleh kalah. Sementara pihak agresor harus melakukan kalkulasi ulang, mencari peluang dan menghitung prospek perang kedepannya.

Skenario End Game

1.⁠ ⁠Boots on the ground. Strategi bombing to win terbukti tidak efektif menghancurkan bunker, kota rudal bawa tanah dan fasilitas nuklir Iran. Untuk keluar dari Escalation trap, AS-Israel memiliki dua opsi, menggandakan tekanan atau mengambil langkah mundur. Jika memilih menambah tekanan kemungkinan besar koalisi ini akan melakukan invasi darat yang tujuannya adalah untuk penguasaan dan kontrol teritorial di wilayah Iran. Lalu, bagaimana mengontrol wilayah seluas Iran. Sebagai perbandinggan, luas wilayah Iran adalah 8 kali luas wilayah Irak. Dalam invasi darat AS ke Irak 2023 lalu, AS mengerahkan sekira 336.000 pasukan darat. Hitung saja berapa jumlah efektif tentara yang harus dikirim ke Iran untuk invasi darat ini. Sulit membayangkan bagaimana mengirim ratusan ribu bahkan jutaan tentara ke wilayah Iran yang secara kontur geografisnya sangat sulit dipenetrasi. Belum lagi, Iran menerapkan sistem pertahanan mosaik, pasukan khususnya tersebar di semua provinsi dan membentuk satuan tersendiri, sehingga pertahanannya tidak terpusat pada satu teritori tertentu. Dengan struktur pertahanan seperti ini, pasukan Iran akan mudah melakukan penyergapan dan pengepungan. Artinya, mengirim pasukan darat sama saja menyerahkan mereka sebagai tawanan perang, atau mengubur mereka dalam lumpur rawah peperangan untuk selamanya.

2.⁠ ⁠Limited Nuclear War. Semua opsi ada diatas meja AS-Israel saat ini, termasuk penggunaan senjata nuklir untuk memenangkan dan mengakhiri perang. Ini adalah opsi paling mengerikan jika dilakukan. Perlu diketahui, sesuatu yang pasti terjadi dalam perang nuklir adalah ‘mutual assured destruction’ (MAD) atau kehancuran bersama. Meskipun Iran saat ini, belum memiliki senjata Nuklir, karena diharamkan secara agama. Namun AS-Israel telah membunuh orang yang mengeluarkan fatwa penggharaman senjata nuklir, Ayatullah Ali Khamenei. Disisi lain, pemurnian uranium Iran dari 60% ke level 90% bisa saja dilakukan dalam hitungan hari. Artinya Iran berpotensi memiliki senjata nuklir dalam waktu singkat. Seandainya perang nuklir ini benar terjadi, sangat sulit dilakukan pembatasan dan pemilihan target, konflik akan berubah menjadi perang totalitas yang saling menghancurkan.

Baca Juga  HMI Cabang Majene Mengadakan Upgrading dan Rapat Kerja Sebagai Sprint Baru Kepengurusan

3.⁠ ⁠Deadlock & Ceasefire. Military deadlock sangat mungkin terjadi ketika 2 opsi diatas gagal dilakukan. Terjebak dalam perang panjang yang tidak pasti, tujuan strategis tidak tercapai, tekanan ekonomi dan tekanan publik semakin besar, dapat memaksa AS-Israel keluar dari perang. Di titik ini, jalan terhormat menarik diri dari perang hampir tertutup rapat. Negosiasi tidak akan menyelamatkan reputasi dan kredibilitasnya sebagai prakarsa perang. Ditambah lagi pengkhianatan yang dilakukan AS di meja perundingan akan membuat Iran sulit berkompromi. Meski demikian, Iran tetap memberikan syarat, AS harus keluar dan menutup semua pangkalan militernya di kawasan; penghentian perang secara permanen; kompensasi terhadap iran sebagai korban agresi ilegal. Nampaknya persyaratan ini juga membuat dahi para agresor berkerut seperti menelan pil pahit. Di posisi ini, tidak ada opsi yang benar-benar menguntungkan, seperti dipaksa memakan buah simalakama. Langkah posisional Iran membawa para agresosr terpojok di posisi stalemate. Seperti kata Putin “Iran tidak sedang berperang, tapi bermain catur”.

Output Perang

Jika AS-Israel menang, maka dominasi Israel di kawasan akan semaikn kuat dan meluas; negara-negara teluk akan semakin solid dan percaya diri melanjutkan normalisasi hubungan dengan Israel; proyek Israel Raya akan berjalan mulus; posisi geopolitik AS akan semakin kuat seiring menguatnya kembali sistem unipolar;

Jika Iran mampu bertahan, kemungkinan AS akan keluar dari kawasan teluk sangat besar; negara-negara teluk akan mengalami kontraksi dan pergolakan internal; support sistem ke Israel akan melemah; kekuatan poros perlawanan semakin kuat; Reputasi AS akan tercoreng dan kekuatan diplomasinya akan menyusut; secara geopolitik, kredit kemenangan ini akan dirasakan juga oleh China dan Rusia, termasuk negara-negara middle power; distribusi kekuatan akan bergerak ke arah multipolar dengan lahirnya  kekuatan kekuatan baru dan Iran akan menjadi magnet kekuatan baru itu.

Kemenangan Iran akan menjadi pintu gerbang menuju pembebasan Al-Quds yang berarti Palestina akan menang dan merdeka.

Baca Juga  Mahasiswi Asal Sulbar Beri Pertanyaan Menohok Kepada Ganjar Pranowo

(Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional, Unsulbar)

Iklan