POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Semangat pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Balanipa kembali menggelora setelah lebih dari satu dekade tertunda. Masyarakat Balanipa kini meneguhkan tekad baru—bersatu, bergerak, dan siap menyambut peluang demi mewujudkan daerah otonom yang telah lama diperjuangkan.
Momentum itu menguat dalam Kongres Rakyat Balanipa yang digelar di Pondok Pesantren Darul Mahfudz Lekopadis, Sabtu (4/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi titik strategis untuk menghidupkan kembali arah perjuangan pembentukan DOB Balanipa sekaligus memperkuat konsolidasi lintas elemen masyarakat.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, Dr. Zein dari Kementerian Agama RI, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Mas’ud Saleh, Rahmat Hasanuddin, serta anggota DPRD Sulawesi Barat seperti Samsul Samad, Abd. Rahim, dan Usman Suhuria.
Hadir pula anggota DPRD Polewali Mandar Rahmadi Anwar dan Amir, bersama para camat, kepala desa, serta ratusan warga yang menunjukkan antusiasme tinggi.
Ketua panitia Farid, didampingi sekretaris Dinar Paisal, mengungkapkan bahwa perjuangan pembentukan DOB Balanipa sejatinya telah dimulai sekitar 11 tahun lalu. Secara administratif, berbagai persyaratan disebut telah terpenuhi, namun kebijakan moratorium pemekaran daerah dari pemerintah pusat masih menjadi kendala utama.
“Melalui kongres ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat para pejuang dan masyarakat Balanipa. Penting bagi publik untuk mengetahui apa saja yang sudah dilakukan, sekaligus merumuskan langkah ke depan,” ujar Farid.
Dalam forum tersebut, juga digelar prosesi adat penandatanganan prasasti kesepakatan atau pattundung Simbang Appe yang memuat empat komitmen utama masyarakat Balanipa. Prosesi ini menjadi simbol kuat tekad kolektif untuk terus memperjuangkan terbentuknya DOB.
Farid menegaskan, secara historis dan kultural, Balanipa memiliki nilai besar yang belum sepenuhnya terwadahi dalam statusnya saat ini sebagai kecamatan. Ia menilai, kejayaan Balanipa di masa lalu sebagai wilayah berpengaruh menjadi dasar kuat untuk mengembalikan identitas tersebut melalui pemekaran.
“Balanipa bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah entitas sejarah dengan peran besar dalam perjalanan Sulawesi Barat. Sudah saatnya citra itu dikembalikan,” tegasnya.
Ia juga menyebut, nama Balanipa telah lama tercatat dalam dokumen perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Pemilihan lokasi kongres di lingkungan pesantren pun diharapkan membawa keberkahan spiritual bagi perjuangan tersebut.
“Kami berharap doa para kiai dan santri dapat mengetuk pintu langit agar perjuangan ini dimudahkan,” tambahnya.
Kongres ini dirangkaikan dengan empat agenda utama, yakni Gema Bakti, dzikir bersama, simposium, dan sidang kongres. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme, menjadi indikator meningkatnya optimisme masyarakat terhadap masa depan DOB Balanipa.
Sementara itu, Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud tampil sebagai figur sentral yang mempertegas arah perjuangan. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen penuh pemerintah daerah dalam mendukung aspirasi masyarakat Balanipa.
“Fokus utama kita adalah persatuan. Kita tidak boleh lagi terjebak pada hal-hal yang memperlambat. DOB Balanipa harus menjadi tujuan bersama yang diperjuangkan secara kolektif,” tegasnya.
Ia menilai keberhasilan pembentukan DOB sangat bergantung pada soliditas masyarakat serta sinergi seluruh pemangku kepentingan. Tanpa kekuatan bersama, upaya tersebut dinilai sulit mencapai hasil maksimal.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan besar berupa kebijakan moratorium pemekaran daerah yang masih berlaku secara nasional. Namun, ia tetap optimistis peluang akan terbuka di masa mendatang.
“Kita harus siap kapan pun kesempatan itu datang. Semua aspek harus dipersiapkan dengan matang, baik administrasi maupun dukungan masyarakat,” ujarnya.
Kongres Rakyat Balanipa 2026 tidak sekadar menjadi forum pertemuan, melainkan titik konsolidasi perjuangan yang menegaskan kembali arah dan komitmen bersama.
Dengan dukungan pemerintah daerah, kekuatan adat, serta semangat kolektif masyarakat, harapan terbentuknya DOB Balanipa kini kembali menemukan momentumnya. (*Mull)
Editor: Basribas




