POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com — Ketangguhan ekonomi keluarga petani kakao tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan perempuan, perlindungan anak, dan kekuatan komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. Semangat inilah yang menjadi pijakan Save the Children Indonesia bersama Mars Impact Fund dalam meluncurkan Program Women R.I.S.E. (Resilient & Inclusive Systems for Empowerment) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Program kolaboratif tersebut resmi diluncurkan pada 26 Agustus 2026 dan akan berlangsung selama tiga tahun hingga Februari 2029. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat perdesaan, khususnya keluarga petani kakao, agar memiliki ketahanan ekonomi sekaligus mampu menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan ramah bagi anak.
Women R.I.S.E. hadir untuk menjawab sejumlah persoalan yang masih dihadapi masyarakat perdesaan, mulai dari ketidakpastian produktivitas pertanian akibat perubahan iklim, keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan formal, hingga kebutuhan memperkuat peran perempuan serta pemenuhan hak-hak anak.
Secara nasional, program yang mendapat dukungan dana hibah sebesar 3 juta dolar AS dari Mars Impact Fund tersebut menargetkan 17.250 petani kakao di 115 desa yang tersebar di lima provinsi, yakni Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Aceh.
Dari total sasaran tersebut, partisipasi perempuan ditargetkan mencapai 60 persen. Program ini juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap lebih dari 8.000 anak melalui penguatan ekonomi keluarga, pola asuh positif, perlindungan anak, serta peningkatan kapasitas masyarakat.
Salah satu pendekatan utama Women R.I.S.E. adalah mengoptimalkan Kelompok Simpan Pinjam Desa (Village Savings and Loan Association/VSLA). Platform tersebut tidak hanya diarahkan sebagai sarana meningkatkan literasi dan pengelolaan keuangan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kepemimpinan perempuan, tata kelola desa, diversifikasi pendapatan, pertanian cerdas iklim, serta edukasi perlindungan anak.
“Melalui penguatan platform VSLA, kami berupaya mendorong pola asuh positif, kesejahteraan keluarga, serta perlindungan anak yang lebih kokoh di komunitas. Pendekatan ini esensial untuk memutus siklus kemiskinan antargenerasi sekaligus mencegah mekanisme bertahan hidup yang berisiko merugikan anak, termasuk praktik pekerja anak,” ungkap Ihwana Mustafa, Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia.
Menurutnya, penguatan peran perempuan dan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun perubahan di tingkat komunitas. Karena itu, program tersebut juga membuka ruang lebih luas bagi perempuan dan anak muda untuk menyampaikan aspirasi serta terlibat dalam proses kepemimpinan masyarakat.
Program Women R.I.S.E. juga mengedepankan pendekatan partisipatif melalui penyusunan Rencana Aksi Komunitas. Dalam pendekatan ini, masyarakat ditempatkan sebagai penggerak utama perubahan, bukan sekadar penerima manfaat.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun tatanan sosial dan ekonomi masyarakat yang lebih mandiri, inklusif, serta berkelanjutan.
“Kami berkomitmen penuh untuk mendukung terciptanya komunitas petani kakao yang memiliki ketahanan ekonomi mandiri, kohesi sosial yang erat, serta kesiapan menghadapi tantangan iklim. Kolaborasi multipihak ini diharapkan mampu memperkuat tata kelola lokal dan membangun sinergi terpadu guna mewujudkan Model Desa Mandiri yang berkelanjutan demi masa depan generasi penerus,” kata Ika Eefendi, Hub Manager Mars Impact Fund.
Sementara itu, Program Manager Sulawesi Citra Forum, Ahmad Rizaldin, menilai program tersebut sejalan dengan arah pembangunan pemerintah daerah, khususnya dalam memperkuat peran masyarakat di tingkat desa.
“Kegiatan ini sangat berkontribusi pada arah pembangunan pemerintah daerah, terutama di tingkat desa yang motor penggeraknya adalah masyarakat, utamanya perempuan dan anak, dengan memberikan literasi dan diseminasi keuangan sampai mendorong terbentuknya lembaga keuangan di masyarakat,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar. Pemkab menilai integrasi antara penguatan perkebunan kakao, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan ketahanan ekonomi keluarga memiliki relevansi kuat dengan karakter sosial masyarakat setempat.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Andi Masri Masdar, mengatakan Program Women R.I.S.E. menarik untuk dikembangkan karena memiliki keterkaitan erat dengan nilai budaya lokal Sibali Parriq.
“Kegiatan ini sangat menarik untuk dikembangkan di Polewali Mandar. Budaya ‘Sibali Parriq’ merupakan kearifan lokal dengan melibatkan perempuan dan anak yang ikut membantu suami dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sektor perkebunan, khususnya kakao, merupakan sektor yang sangat berkorelasi dengan program Women R.I.S.E. ini,” ungkapnya.
Senada, Kepala Badan Perencanaan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Akhmad Farid Rahim, menegaskan kesiapan pemerintah daerah untuk membangun sinergi dalam pelaksanaan program tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, kami menyambut baik dan siap bersinergi penuh dalam pelaksanaan Program Women R.I.S.E. Inisiatif ini sangat strategis karena menyatukan pilar ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan perlindungan anak dalam satu kerangka kerja yang solid,” katanya.
Ia menambahkan, konsolidasi Rencana Aksi Komunitas dengan intervensi anggaran daerah dapat diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari sektor kesehatan, gizi keluarga, hingga fasilitas air bersih dan sanitasi.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, lembaga sosial, dan sektor swasta tersebut, Program Women R.I.S.E. diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas ekonomi semata. Program ini ditargetkan mampu melahirkan desa-desa yang lebih mandiri, perempuan yang semakin berdaya, keluarga yang lebih tangguh, serta lingkungan yang mampu menjamin tumbuh kembang dan perlindungan anak.
Pada akhirnya, penguatan keluarga petani kakao menjadi pintu masuk untuk membangun masa depan desa yang lebih kokoh. Melalui semangat Sibali Parriq, partisipasi perempuan, perlindungan anak, dan ketahanan menghadapi perubahan iklim, desa-desa dampingan di Polewali Mandar diharapkan mampu tumbuh sebagai komunitas yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (*rls)
Editor: Basribas




