Shared Berita

Sulbarpos.com  , Yogyakarta — Dalam konteks spiritual, budaya dan ekonomi generasi saat ini memiliki distinksi dengan generasi yang lain. Dalam sisi spiritualitas, generasi saat ini memiliki karakteristik dan tingkat spiritualitas dari generasi sebelumnya. Lebih-lebih dengan generasi baby boomer.

“Generasi Z atau milenial ini memang memiliki spiritualitas yang memang lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya”, ungkap Abdul Mu’ti dalam Pengajian yang bertema “Islam dan Spiritualitas Generasi Z: Tantangan dan Strategi bagi PTMA” di Yogyakarta, Jumat (14/7/2023) lalu.

Baca Juga  Lakukan Pertemuan, BPBD Sulbar Akan Percepat Pengurusan Izin IMB dan UKL-UPL/AMDAL

Abdul Mu’ti dalam tausiyah menyampaikan, terkait dengan penamaan generasi Z maupun milenial mengalami kerancuan, oleh karena itu dia lebih nyaman menyebutnya sebagai generasi muda.

Merujuk sumber-sumber penelitian, Guru Besar Pendidikan Islam menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator untuk mengukur rendahnya spiritualitas generasi ini. Pertama, pandangan mereka tentang makna agama bagi kehidupan. Mereka menganggap agama tidak terlalu diperlukan dalam kehidupannya.

“Generasi ini tidak merasa agama itu perlu, agama itu penting. Bahkan yang menarik ketika kita berbicara tentang agama pada generasi milenial ini, sesuai dengan karakteristik mereka yang easy going  yang cenderung bebas, dan mendapatkan sesuatu secara mudah, kelompok ini cenderung memaknai spiritualitas sebagai ketenangan batin. Namun tidak berarti dia harus terikat dengan agama-agama tertentu”, tutur Abdul Mu’ti dikutip dari muhammadiyah.or.id (16/7/2023).

Baca Juga  Dwi Christianto Jadikan Rumah Fatmawati Tempat Umumkan Kepengurusan PP IWO Periode 2023-2028

Kenyataan tersebut yang kemudian menimbulkan trend pada kalangan generasi muda untuk memilih tidak beragama. Meskipun mereka mempercayai spiritualitas ke-Tuhanan, tetapi mereka enggan terikat dengan institusi agama manapun atau agnostik.

Indikator yang kedua, generasi muda ini lebih longgar dalam relasi antar kawan, bahkan relasi antar agama. Sifat terbuka dan lebih menerima nilai-nilai universal, daripada nilai yang memisahkan mereka.

“Penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan itu lebih tinggi di kelompok ini. Karena mereka lebih cair, bergaulnya itu melintas batas”, imbuhnya.

Kecenderungan sikap tersebut dapat dilihat dalam case LGBT. Mu’ti menyebut, kelompok generasi muda ini lebih mudah menerima perbedaan orientasi seksual tersebut, ketimbang kelompok ‘kolonial’ atau tua.

Sikap pelonggaran yang diikuti oleh kebanyakan generasi milenial atau Z ini berdampak pada demografi suatu negara. Sebab mereka cenderung untuk memilih tidak menikah, menyebabkan pertumbuhan penduduk di suatu negara itu negatif. Realitas tersebut dapat ditemukan di negara-negara maju.

“Kelompok ini begitu longgar, yang kadang-kadang menimbulkan ketegangan antar generasi”, kata dia.

Berbagai kenyataan tersebut menjadi alasan Muhammadiyah mengangkat isu spiritualitas generasi milenial sebagai isu nasional. Saat ini dan ke depan, demografi penduduk Indonesia mayoritas adalah kelompok generasi ini. Sehingga masa depan bangsa ini digantungkan kepada generasi milenial.

(Sulbarpos/Red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Open chat
Hello 👋
ada yang bisa kami bantu ??