Shared Berita

JAKARTA, Sulbarpos.com — Keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih prestasi. Kisah Ismi Ulfaida, siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjadi bukti bahwa ketekunan, kesabaran, dan keberanian bermimpi dapat mengantarkan seorang anak dari keluarga sederhana hingga berdiri di panggung kenegaraan.

Rasa haru menyelimuti Suburia ketika menyaksikan langsung putrinya menjalankan tugas sebagai bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional pada upacara penurunan bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026).

Bagi Suburia, menyaksikan Ismi berada di barisan Paskibraka menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ia mengaku tidak pernah membayangkan anaknya yang tumbuh dalam keluarga dengan segala keterbatasan dapat mencapai tingkat nasional dan tampil di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

“Langsung terharu pak, menangis mendengar anak lolos (Paskibraka),” ujar Suburia.

Ismi merupakan putri pasangan Rahman dan Suburia. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak selalu menentu. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Ismi untuk belajar, berprestasi, dan mengejar cita-cita.

Di tengah kesederhanaan keluarganya, Ismi justru dikenal sebagai anak yang sabar, penurut, serta memiliki kepedulian terhadap keluarga. Ia juga terbiasa membantu ibunya menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah.

“Selain Ismi-nya penyabar dan penurut, dia juga membantu saya di rumah menyelesaikan pekerjaan rumah,” tutur Suburia.

Menurut Suburia, pendidikan yang dijalani Ismi di Sekolah Rakyat selama kurang lebih satu tahun juga membawa perubahan positif dalam kehidupan putrinya. Ia melihat Ismi semakin disiplin dan rajin menjalankan ibadah setelah mengikuti proses pendidikan dan pembinaan di sekolah tersebut.

Perjalanan Ismi menuju Paskibraka Nasional pun tidak berlangsung singkat. Ia harus melewati tahapan seleksi secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten, kemudian bersaing di tingkat provinsi hingga akhirnya lolos dalam seleksi tingkat nasional.

Baca Juga  Fahry Fadly Soroti Kawasan Kumuh Pesisir Polman, DPRD Minta Perkimtanhub Tak Fokus pada RTLH Saja

Ismi tercatat bersaing dengan 119.441 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 76 putra-putri terpilih dari 38 provinsi yang mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari Paskibraka Nasional 2026.

“Memang membutuhkan proses yang panjang, mulai dari seleksi tingkat kabupaten, kemudian provinsi, dan akhirnya sampai ke tingkat pusat,” kata Ismi.

Dalam pelaksanaan tugas di Istana Merdeka, Ismi dipercaya sebagai cadangan baki pada prosesi penurunan bendera. Meski demikian, kesempatan tersebut tetap menjadi pengalaman berharga sekaligus kebanggaan tersendiri bagi dirinya, keluarga, sekolah, dan masyarakat Sulawesi Barat.

Ismi mengakui sempat merasakan ketegangan ketika harus menjalankan tugas di hadapan Presiden. Namun, seluruh rasa gugup perlahan teratasi setelah ia mampu melewati rangkaian tugas dengan baik.

“Awalnya tentu merasa grogi karena tampil di hadapan Presiden. Tetapi sekarang saya merasa lega karena sudah menyelesaikan seluruh proses dan tugas dengan baik,” ujarnya.

Bagi Ismi, menjadi bagian dari Paskibraka Nasional bukan sekadar pencapaian pribadi. Pengalaman tersebut menjadi pembuktian bahwa kesempatan untuk berprestasi terbuka bagi siapa saja, termasuk siswa yang berasal dari keluarga sederhana dan menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

“Terharu karena sudah selesai menuntaskan tugas negara,” kata Ismi.

Ia pun menitipkan pesan kepada teman-temannya di Sekolah Rakyat agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Menurutnya, setiap anak memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita selama mau berusaha dan tidak mudah menyerah.

“Teman-teman Sekolah Rakyat jangan pernah putus asa dan jangan mudah menyerah, karena semua pasti ada jalannya,” pungkas Ismi.

Kisah Ismi Ulfaida menjadi gambaran bahwa prestasi tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang ekonomi. Dari keluarga buruh tani di Polewali Mandar hingga mendapat kesempatan menjalankan tugas negara di Istana Merdeka, Ismi menunjukkan bahwa kerja keras, kedisiplinan, pendidikan, dan keberanian untuk bermimpi dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar.

Baca Juga  Karendal Opsres Pimpin Apel Pengecekan Operasi Mantap Praja Marano 2024 untuk Pengamanan Pilkada Serentak

Keberhasilan Ismi sekaligus menjadi pesan penting bagi generasi muda di daerah: jangan ukur masa depan dari keadaan hari ini. Selama masih mau belajar, berusaha dan pantang menyerah, selalu ada kesempatan untuk mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. (*rls)

Editor: Basribas

Iklan