Batetangnga Bidik Rekor MURI Lewat Bakar Lammang Massal, Siap Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, mulai mempersiapkan gebrakan budaya dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, masyarakat, dan pengelola destinasi wisata, lahir gagasan menggelar bakar lammang massal yang tidak hanya menjadi perayaan kemerdekaan, tetapi juga diarahkan sebagai agenda budaya berskala besar untuk mengangkat potensi pariwisata serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan perdana yang berlangsung di kediaman Drs. Hasan Bado, Pekkabata Kanang, Jumat (17/7/2026) malam. Pertemuan dihadiri Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat Komisi IV, Masdar Mahmuddin, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Polewali Mandar Agusnia Hasan Sulur, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Polewali Mandar A.A. Rajab, Camat Binuang Andi Sanggap Rahim bersama Sekretaris Kecamatan Abd. Majid, Kepala Desa Batetangnga Sumaila, serta tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan sejumlah pemerhati pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Drs. Hasan Bado menjelaskan bahwa bakar lammang massal dirancang sebagai momentum untuk menghidupkan kembali tradisi leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Batetangnga. Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga dapat menjadi kekuatan baru dalam membangun sektor pariwisata yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Tradisi harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Jika dikelola dengan baik, budaya lokal dapat berkembang menjadi daya tarik wisata yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Masdar Mahmuddin, memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut. Ia menilai konsep yang mengedepankan keterlibatan pemangku adat Tollu Bate—yakni Ulu Bate, Tangnga Bate, dan Cappak Bate—menjadi kekuatan utama dalam menjaga nilai autentik tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Batetangnga.
Menurut Masdar, keterlibatan unsur adat akan memberikan nilai lebih bagi kegiatan tersebut sehingga tidak sekadar menjadi perayaan seremonial, melainkan menjadi atraksi budaya yang memiliki daya tarik bagi wisatawan dari berbagai daerah.
Selain melestarikan budaya, kegiatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Desa Batetangnga. Ramainya wisatawan diharapkan memberi dampak positif bagi pelaku UMKM, pengrajin, pedagang kuliner, pengelola destinasi wisata, hingga berbagai sektor ekonomi kreatif yang berkembang di desa.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Polewali Mandar, A.A. Rajab mengungkapkan bahwa gagasan tersebut akan segera dilaporkan kepada Bupati Polewali Mandar sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan wisata budaya.
Ia bahkan mengungkapkan adanya rencana besar untuk mengusulkan kegiatan tersebut sebagai pemecahan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui pelaksanaan bakar lammang dengan jumlah peserta terbanyak.
“Potensi kegiatan ini sangat luar biasa. Kami akan menyampaikan konsep ini kepada Bapak Bupati Polewali Mandar agar mendapatkan dukungan penuh. Jika seluruh elemen masyarakat bersatu, bukan tidak mungkin Batetangnga mampu mencatatkan sejarah melalui pemecahan Rekor MURI,” kata A.A. Rajab.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa target tersebut membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari penyusunan konsep kegiatan, koordinasi lintas sektor, kesiapan lokasi, hingga aspek teknis pelaksanaan agar seluruh rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan sesuai standar yang ditetapkan pihak MURI.
Penggagas kegiatan, A.A. Rajab bersama Drs. Hasan Bado, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif menyukseskan agenda budaya tersebut. Mereka menilai sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, pelaku UMKM, dan komunitas pariwisata menjadi fondasi penting dalam menjadikan Batetangnga sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Polewali Mandar.
Apabila terlaksana sesuai rencana, bakar lammang massal tidak hanya akan menjadi perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan budaya lokal yang mampu memperkenalkan Batetangnga di tingkat nasional. Kehadiran ribuan peserta dan wisatawan diharapkan menciptakan efek berganda terhadap perekonomian masyarakat, membuka peluang usaha baru, sekaligus memperkuat citra Batetangnga sebagai desa wisata berbasis budaya.
Rencana pemecahan Rekor MURI masih berada pada tahap penggagasan dan akan melalui proses koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar serta pihak Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Pelaksanaannya memerlukan persiapan teknis yang komprehensif, dukungan seluruh pemangku kepentingan, serta konsep penyelenggaraan yang memenuhi standar penilaian agar kegiatan berlangsung meriah, tertib, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta pengembangan sektor pariwisata daerah. (*Mull)
Editor: Basribas



