POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Ketahanan keluarga dan penguatan nilai toleransi menjadi benteng utama dalam menjaga keutuhan bangsa dari ancaman paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Berangkat dari semangat tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Polewali Mandar bersama Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Polewali Mandar menggelar sosialisasi pencegahan dan antisipasi paham IRET, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan yang diikuti berbagai unsur strategis ini menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan kewaspadaan masyarakat, khususnya kaum perempuan dan keluarga, agar mampu mengenali serta mencegah penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Polewali Mandar, Koordinator Satgas Anti Teror Densus 88 Wilayah Sulawesi Barat, Kepala Badan Kesbangpol Polewali Mandar, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Polewali Mandar, para staf ahli dan pengurus PKK, Kepala Bidang Organisasi Kemasyarakatan, Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional Kesbangpol Polman, Ketua Dharma Wanita Unit Perangkat Daerah beserta anggota, serta Ketua Tim Penggerak PKK kecamatan dan desa se-Kabupaten Polewali Mandar.
Dalam pemaparannya, Koordinator Satgas Anti Teror Densus 88 Wilayah Sulawesi Barat menegaskan bahwa pencegahan paham intoleransi, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme paling efektif dimulai dari lingkungan keluarga. Menurutnya, PKK dan DWP memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan rumah tangga dan masyarakat.
“Perempuan dan keluarga merupakan garda terdepan dalam membangun ketahanan sosial. Karena itu, upaya pencegahan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme harus dimulai dari rumah melalui penguatan nilai toleransi, nasionalisme, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, kader PKK dan anggota DWP diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan serta melakukan deteksi dini terhadap perubahan perilaku anggota keluarga yang mengarah pada sikap intoleran, eksklusif, maupun terpapar narasi radikal yang marak beredar di media sosial.
Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman mengenai nilai budaya lokal Mandar Lokaq Sipaqatau, yakni sikap saling menghargai dan menghormati sesama. Nilai luhur tersebut dinilai sejalan dengan semangat Pancasila dan moderasi beragama yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di Polewali Mandar.
PKK dan DWP pun berkomitmen menanamkan nilai-nilai tersebut dalam pola asuh keluarga maupun berbagai aktivitas organisasi, sehingga keluarga di Polewali Mandar dapat menjadi benteng kokoh dalam menangkal penyebaran paham-paham yang menyimpang.
Tidak hanya itu, forum sosialisasi ini juga menghasilkan komitmen untuk membangun jaringan kewaspadaan lintas organisasi. Jalur komunikasi cepat antara kader PKK, DWP, tokoh agama, serta Badan Kesbangpol Kabupaten Polewali Mandar akan diperkuat guna mengantisipasi sedini mungkin potensi penyebaran paham intoleran maupun radikal di lingkungan masyarakat.
Apabila ditemukan indikasi penyebaran paham yang mengarah pada intoleransi, radikalisme, ekstremisme, atau terorisme, maka akan dilakukan pendekatan persuasif serta pelaporan sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
Kepala Badan Kesbangpol Polewali Mandar menegaskan, sinergi antara pemerintah daerah, organisasi perempuan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas daerah.
“Ketahanan keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang tangguh. Dengan memperkuat nilai toleransi dan wawasan kebangsaan, kita dapat bersama-sama menjaga keamanan, kedamaian, serta keutuhan NKRI, khususnya di Kabupaten Polewali Mandar,” katanya.
Melalui peningkatan kewaspadaan dan kolaborasi yang berkelanjutan, diharapkan ketahanan keluarga dan sosial di Kabupaten Polewali Mandar semakin kokoh. Keluarga yang rukun, toleran, dan berwawasan kebangsaan diyakini menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan, kedamaian, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Bumi Tipalayo. (*rls)
Editor: Basribas




