MAPPALILI Jadi Momentum Polman Pacu Produksi Padi, Bupati Ajak Petani Perkuat Tanam Serentak
POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menjadikan tradisi Mappalili di Desa Rumpa, Kecamatan Mapilli, Senin (13/7/2026), sebagai momentum memperkuat kesiapan petani menghadapi musim tanam gadu Juli–Agustus. Pertemuan yang melibatkan kelompok tani dan P3A Tammalanre itu tidak hanya menjadi ajang evaluasi hasil panen, tetapi juga ruang konsolidasi untuk mempercepat peningkatan produksi padi melalui perbaikan irigasi, penyaluran pupuk tepat sasaran, dan penerapan teknologi pertanian modern.
Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud hadir bersama jajaran Dinas Pertanian dan Pangan serta Dinas Pekerjaan Umum. Pemerintah daerah menegaskan komitmen memperkuat sektor pertanian melalui pembenahan jaringan irigasi, penguatan kelembagaan kelompok tani, serta penerapan sistem budidaya yang lebih efisien dan berorientasi pada peningkatan produktivitas.
Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (Disbun TPHP) Kabupaten Polewali Mandar, Moh. Jumadil Tappawali, menjelaskan bahwa persoalan irigasi masih menjadi tantangan utama bagi petani di Desa Rumpa. Menurutnya, pembenahan jaringan irigasi harus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten sesuai kewenangan masing-masing.
“Irigasi menjadi faktor kunci dalam peningkatan produksi padi. Di Desa Rumpa saat ini telah berjalan rehabilitasi irigasi tersier yang dikerjakan Balai, dan tahun ini juga mendapat program pengembangan jaringan irigasi,” ujar Jumadil.
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur tidak akan optimal tanpa pengelolaan distribusi air yang baik. Karena itu, koordinasi antara Balai Pengelola Irigasi, petugas pintu air, pemerintah daerah, dan petani harus diperkuat agar kebutuhan air di seluruh areal persawahan dapat terpenuhi secara merata.
Selain irigasi, pertemuan tersebut juga menyoroti penyaluran pupuk bersubsidi. Jumadil menjelaskan bahwa distribusi pupuk masih mengacu pada Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), sehingga petani yang belum tergabung dalam kelompok tani resmi belum dapat mengakses pupuk bersubsidi.
Untuk mengatasi hal itu, Dinas Pertanian akan melakukan pendataan bersama pemerintah desa dan pengurus kelompok tani guna memastikan seluruh petani masuk dalam kelembagaan resmi dan dapat memperoleh program bantuan pemerintah.
Dalam kesempatan yang sama, Dinas Pertanian mensosialisasikan program Pertanian Modern – Advanced Agriculture System (PM-AAS), sebuah program nasional yang mendorong peningkatan produktivitas melalui pola tanam modern.
Melalui sistem PM-AAS, kepadatan tanaman dapat mencapai sekitar 1 juta rumpun per hektare, jauh lebih tinggi dibanding metode konvensional yang rata-rata sekitar 300 ribu rumpun per hektare. Dengan pengelolaan pemupukan, air, dan pengendalian hama yang tetap terukur, produktivitas padi ditargetkan mampu menembus 10 ton per hektare.
“Sistem ini membuat proses tanam lebih efisien sehingga biaya operasional dapat ditekan, sementara potensi hasil panen meningkat,” kata Jumadil.
Saat ini Kabupaten Polewali Mandar telah memiliki lokasi percontohan PM-AAS di Desa Bumiayu dan Desa Kebunsari. Pemerintah daerah juga memperoleh alokasi pengembangan sekitar 1.500 hektare sebagai bagian dari perluasan program nasional, yang diharapkan menjadi motor peningkatan produksi pangan di wilayah sentra pertanian Polman.
Pemerintah daerah juga mendorong petani menerapkan pola tanam serentak. Langkah ini dinilai penting untuk mempermudah pengaturan distribusi air sekaligus menekan serangan hama yang sering berpindah dari lahan yang telah dipanen ke sawah yang masih dalam masa pertumbuhan.
“Tanam serentak harus menjadi gerakan bersama. Dengan pola yang sama, pengendalian hama lebih efektif dan pengaturan air bisa dilakukan lebih merata,” ujar Jumadil.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kawasan hulu daerah aliran sungai. Kerusakan hutan dan pembukaan lahan di wilayah pegunungan, menurutnya, akan berdampak langsung pada menurunnya debit air yang menjadi sumber utama irigasi pertanian.
“Jika kawasan hulu terus rusak, debit air akan semakin berkurang dan persoalan irigasi akan terus berulang bagi petani di masa mendatang,” katanya.
Melalui pertemuan MAPPALILI tersebut, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar berharap sinergi antara pemerintah, kelompok tani, P3A, dan seluruh pemangku kepentingan semakin kuat dalam menyelesaikan persoalan pertanian di Desa Rumpa dan wilayah sentra pangan lainnya.
Perbaikan irigasi, penyaluran pupuk yang tepat sasaran, penerapan teknologi PM-AAS, serta penguatan pola tanam serentak diharapkan menjadi fondasi peningkatan produktivitas padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Program PM-AAS menjadi salah satu prioritas nasional dalam modernisasi pertanian. Dengan dukungan lokasi percontohan di Desa Bumiayu dan Kebunsari serta alokasi pengembangan sekitar 1.500 hektare, Polewali Mandar diproyeksikan menjadi salah satu daerah penggerak peningkatan produksi padi di Sulawesi Barat melalui sistem budidaya yang lebih efisien, hemat biaya, dan berbasis teknologi. (*rls)
Editor: Basribas



