Refleksi Idul Adha: Berbakti kepada Orang Tua dan Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim

Di hadapan jamaah salat Idul Adha, Ustadz Nardjus Saleh menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal keberhasilan akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan akhlak anak di lingkungan keluarga. (Poto : Basribas)
Shared Berita

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, serta pendidikan akhlak dalam keluarga. Dalam khutbah Idul Adha di Masjid Jami Taqwa Madatte, Kabupaten Polewali Mandar, Ustadz Nardjus Saleh mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak-anak, terutama dalam membangun adab dan akhlak sejak dini.

Di hadapan jamaah salat Idul Adha, Ustadz Nardjus Saleh menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal keberhasilan akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan akhlak anak di lingkungan keluarga.

“Guru di sekolah sudah memberikan didikan tentang adab, tetapi kelanjutan pendidikan di rumah sangat menentukan bagaimana akhlak dan perilaku anak-anak kita ke depan,” ujar Ustadz Nardjus Saleh dalam khutbahnya. Rabu (27/5/2026)

Ia menekankan, tanggung jawab orang tua tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi anak, seperti pakaian dan fasilitas hidup, melainkan juga memastikan anak tumbuh dengan adab yang baik, menghormati orang tua, serta memiliki akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Hari Raya Idul Adha menjadi momentum penting untuk mengorbankan ego sebagai orang tua dan memperkuat kasih sayang dalam keluarga.

“Hari ini mari kita mengorbankan ego kita sebagai orang tua. Menjaga anak bukan hanya membelikan pakaian, tetapi juga menjaga akhlak, adab, dan masa depan mereka,” pesannya.

Dalam khutbah tersebut, ia juga mengingatkan bahwa kebahagiaan orang tua tidak selalu diukur dari banyaknya harta yang dimiliki anak. Anak yang hidup sederhana namun mampu membahagiakan orang tuanya dinilai lebih mulia dibanding mereka yang memiliki kekayaan melimpah tetapi melupakan jasa dan pengorbanan orang tua.

Ustadz Nardjus Saleh mengajak jamaah untuk merenungkan kembali hubungan anak dengan orang tua di tengah kehidupan modern saat ini. Ia mengingatkan agar jangan sampai orang tua merasa kesepian dan kekurangan perhatian di usia senja, sementara anak-anak hidup dalam kecukupan.

Baca Juga  Nelayan Meninggal di Laut, DPKP Polman dan BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan kepada Keluarga

“Jangan sampai kita terlihat mencintai orang tua hanya di media sosial, tetapi abai hadir dalam kehidupan nyata mereka,” tuturnya.

Selain berbakti kepada orang tua, jamaah juga diingatkan pentingnya menghormati guru sebagai bagian dari adab seorang murid. Nasihat guru, kata dia, harus dihargai dan dijadikan pedoman, bukan malah dijadikan candaan atau direndahkan.

Khutbah Idul Adha tersebut juga mengangkat kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai simbol keikhlasan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim menunjukkan pengabdian luar biasa saat menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan putranya, sementara Nabi Ismail menjadi teladan anak yang taat dan sabar menerima ketentuan Allah SWT.

Nilai pengorbanan dan keimanan dalam kisah itu, menurutnya, harus menjadi pedoman kehidupan umat Islam saat ini, terutama dalam membangun keluarga yang berlandaskan kasih sayang, penghormatan, dan keimanan.

Momentum Idul Adha juga menjadi pengingat bagi setiap orang tua untuk terus mendukung pendidikan anak-anak dengan penuh keteladanan dan kasih sayang, agar tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.

Di akhir khutbahnya, Ustadz Nardjus Saleh mengingatkan bahwa seluruh yang dimiliki manusia di dunia sejatinya hanyalah titipan dari Allah SWT. Harta, jabatan, bahkan keluarga merupakan amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

“Yang ada di dunia ini hanyalah titipan dari Allah SWT. Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia, tetapi lupa menjaga amanah terbesar, yakni keluarga, orang tua, dan anak-anak kita,” pungkasnya. (*Mull)

Editor: Basribas

Iklan