Shared Berita

POLEWALI MANDAR, Sulbarpos.com – Sunyi perkampungan Bulubawang, Desa Duampanua, Kecamatan Matakali, menyimpan potret getir kehidupan yang luput dari perhatian. Di sebuah gubuk sempit berukuran sekitar 2,5 meter, Hermis (35) bertahan hidup bersama tiga anaknya dalam kondisi serba terbatas, Kamis (16/4/2026).

Sejak ditinggal wafat suaminya lima tahun lalu, Hermis memikul seluruh tanggung jawab keluarga seorang diri. Tanpa pekerjaan tetap dan tanpa sumber penghasilan pasti, ia menjalani hari-hari dengan peran ganda sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga.

Setiap pagi, Hermis menyusuri kebun milik warga. Ia bukan bekerja sebagai buruh tetap, melainkan memungut buah kelapa yang jatuh. Dari aktivitas itu, ia hanya mampu mengumpulkan lima hingga sepuluh butir per hari. Dengan harga jual sekitar Rp3 ribu per butir, penghasilannya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

“Kadang tidak ada sama sekali, tapi tetap harus cari, karena anak-anak harus makan,” ujar Hermis lirih.

Keterbatasan ekonomi yang dihadapi tidak hanya berdampak pada kebutuhan harian, tetapi juga mengancam keberlanjutan pendidikan anak-anaknya. Dua dari tiga anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kini tidak lagi menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), setelah sebelumnya hanya sekali merasakan manfaat program tersebut.

Padahal, bantuan itu menjadi satu-satunya harapan untuk menopang biaya pendidikan. Tanpa dukungan tersebut, anak-anak Hermis kini berada di ambang risiko putus sekolah.

Upaya untuk mendapatkan bantuan sosial lain pun belum membuahkan hasil. Meski telah didata sejak awal tahun, nama Hermis belum tercantum sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Bantuan beras yang sempat diterima pun hanya berlangsung sekali tanpa kelanjutan.

Baca Juga  GMNI Polman dan KAMMI Mandar Raya Laporkan Dugaan Tambang Ilegal ke Polres

Kondisi ini memperlihatkan masih adanya celah dalam distribusi bantuan sosial, khususnya bagi warga dengan tingkat kerentanan tinggi. Hermis dan keluarganya menjadi gambaran nyata bahwa sistem perlindungan sosial belum sepenuhnya menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.

Di tengah keterbatasan itu, Hermis tetap bertahan. Ia terus berjalan dari kebun ke kebun, memungut kelapa demi kelapa, menukar tenaga dengan penghasilan seadanya demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan dan, sebisa mungkin, tetap bersekolah.

“Bukan tidak mau berharap, tapi kalau terlalu lama menunggu, yang ada anak-anak saya tidak makan,” tuturnya.

Kisah Hermis menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka kemiskinan, terdapat realitas kehidupan yang berlangsung dalam diam. Ketika bantuan belum sepenuhnya hadir, keteguhan seorang ibu menjadi benteng terakhir bagi keberlangsungan hidup dan masa depan anak-anaknya. (Mull)

Editor: Basribas

Iklan