Shared Berita

MAMASA, Sulbarpos.com – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mamasa kembali menjadi sorotan. Sebanyak 14 siswa SMP Negeri 1 Tabulahan diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan program MBG hingga harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Tabulahan, Senin (28/9/2026).

Kasus tersebut memicu desakan keras dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Sulawesi Barat. Organisasi kemahasiswaan itu meminta pemerintah dan pihak berwenang tidak menganggap ringan insiden yang menimpa para pelajar tersebut, terlebih menyangkut keamanan pangan dan keselamatan peserta didik.

Kabid PTKP HMI Badko Sulbar menilai kejadian tersebut perlu segera diusut secara menyeluruh untuk mengetahui apakah terdapat kelalaian dalam proses pengolahan, penyimpanan, distribusi maupun pengawasan makanan yang diberikan kepada siswa.

“Keselamatan dan kesehatan para siswa adalah hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar. Kejadian yang menimpa 14 siswa SMPN 1 Tabulahan ini harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa,” tegasnya.

HMI Badko Sulbar juga mendesak adanya evaluasi terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan MBG di Tabulahan.

Mereka meminta pihak berwenang mempertimbangkan pencopotan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), koordinator, tenaga ahli gizi serta pihak yayasan yang berkaitan dengan pengelolaan layanan MBG di lokasi tersebut apabila hasil pemeriksaan nantinya membuktikan adanya pelanggaran atau kelalaian.

Selain itu, HMI mendesak agar operasional dapur MBG di Tabulahan dihentikan sementara sampai proses investigasi dan evaluasi selesai dilakukan.

“Kami mendesak adanya langkah tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab. Dapur MBG juga harus dievaluasi secara menyeluruh sebelum kembali beroperasi demi memastikan makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar aman dan memenuhi standar,” ujarnya.

Baca Juga  Curah Hujan Tinggi, Rumah Warga di Dusun Palasan ditimpa Longsor 

Sementara itu, Koordinator SPPG Kabupaten Mamasa, Syahrul Gunawan, membenarkan adanya siswa yang mendapatkan penanganan medis setelah diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG.

Saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, Syahrul mengatakan dari 14 siswa yang mendapatkan perawatan, delapan siswa telah membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah.

Sementara beberapa siswa lainnya masih menjalani perawatan di Puskesmas Tabulahan.

Satu siswa bahkan dirujuk ke rumah sakit di Mamuju karena disebut memiliki riwayat penyakit bawaan. Menurut Syahrul, siswa tersebut sekitar sepekan sebelumnya juga sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas.

“Dari 14 siswa, delapan sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Untuk yang lainnya masih menjalani perawatan, dan satu orang dirujuk karena diduga memiliki penyakit bawaan,” jelas Syahrul.

Syahrul juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima surat dari Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Direktorat Pemantauan dan Pengawasan terkait penghentian sementara operasional dapur MBG di Tabulahan.

Dengan keputusan tersebut, dapur SPPG Tabulahan tidak diperbolehkan beroperasi mulai Selasa (29/9/2026) sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan BGN yang memang dapat memberikan sanksi suspend terhadap SPPG yang ditemukan tidak memenuhi ketentuan, termasuk dalam aspek pengawasan dan keamanan pangan.

BGN sebelumnya juga telah menerapkan penghentian sementara terhadap sejumlah SPPG dalam rangka evaluasi dan investigasi terkait pemenuhan standar keamanan pangan.

Meski dugaan keracunan mencuat setelah para siswa mengonsumsi makanan MBG, Syahrul menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Menurutnya, kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan dan uji laboratorium.

“Mengenai penyebab kejadian tersebut, kami masih belum bisa menyimpulkan dan membeberkannya kepada publik. Kami masih menunggu hasil uji laboratorium. Diharapkan publik dapat tenang dan bersabar menunggu hasilnya,” kata Syahrul.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena dugaan keracunan belum dapat secara otomatis disimpulkan disebabkan oleh makanan MBG sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi resmi selesai.

Baca Juga  Baru Dipanggil, Pemuda Ini Tiba-Tiba Disabet Parang

HMI Badko Sulbar meminta proses investigasi tidak berhenti pada penghentian sementara operasional dapur. Mereka mendorong dinas terkait bersama aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui rangkaian kejadian dan memastikan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan.

Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat menjawab sejumlah pertanyaan penting, mulai dari kualitas bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga pengawasan makanan sebelum diberikan kepada siswa. (*Mull)

Editor: Basribas

Iklan