Shared Berita

Sulbarpos.com , Medan — Istilah moderasi beragama semakin dikenal di tengah masyarakat. Moderasi beragama terbentuk akibat munculnya kelompok-kelompok ekstrem yang difaktori berbagai hal seperti sensitifitas kehidupan beragama, masuknya aliran kelompok ekstrem dari luar negeri, bahkan turut diwarnai oleh permasalahan politik dan pemerintahan.

Badan Koordinasi Pemuda Muslim (Bakopam) Sumatera Utara pun menyuarakan moderasi beragama, melalui Sosialisasi Moderasi Beragama dalam Merawat Kebhinekaan mulai Rabu (31/5) hingga Sabtu (3/6/2023) di Kopi Medan kawasan Hotel Danau Toba, Medan.

Selain itu, rangkaian kegiatan sosial pun turut dilaksanakan seperti penyerahan paket sembako serta uang santunan untuk warga tunanetra di Jalan Denai Medan. Pada acara puncak sosialisasi moderasi beragama tersebut, Sabtu (3/6/2023).

Ketum Bakopam Sumut, Ibnu Hajar menyampaikan segenap harapan setelah terselenggaranya sosialisasi moderasi beragama ini. “Kami dari Bakopam, tujuan ini, internal kami masyarakat, agar bisa sama-sama menambah ilmu tentang arti kebhinekaan dan keutuhan bangsa ini,” ucap Ibnu.

“Untuk ke depan, kita harapkan jangan terjadi seperti yang lalu, ada berantam, ada yang bertengkar. Ini adalah pemilihan putra terbaik bangsa, siapapun yang menang mari kita dukung. Marilah kita bersatu, jangan gara-gara pemilihan kita bertengkar, tetaplah kita bersatu,” tambah Ibnu.

Dalam kesempatan yang sama Pengurus Harian Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Akhmad Khambali juga menyampaikan poin-poin penting dalam moderasi beragama.

“Terkait dengan moderasi beragama khususnya kita coba sosialisasikan di Sumatera Utara, bagaimana ada kesinambungan antara jiwa dan rohani agar toleransi beragama di Sumatera Utara lebih di kedepankan,” ucap Khambali.

Ia menjelaskan artinya tidak ada penindasan di salah satu agama, tidak ada unsur sara dan lain sebagainya karena kaitannya ini menjelang Pilpres 2024 dan tentu ini harus bisa mengedepankan bahwa politik adalah politik yang santun, politik yang damai, politik yang toleran.

Baca Juga  AKP Rachmat Aribowo Lepas Tugas sebagai Kasat Reskrim Polres Simalungun

“Sehingga jangan sampai masyarakat kita, khususnya di Sumatra Utara ini mudah diadu domba, mudah disebarluaskan berita-berita yang tidak benar khususnya berita-berita hoax,” bebernya.

Menurutnya, karena kaitannya dengan moderasi bergama ini selalu dikedepankan orang-orang yang tidak suka dengan kelompok-kelompok tertentu itu dengan berita hoax.

“Karena apa, berita hoax hakikatnya ini diciptakan oleh orang-orang pintar tapi jahat, dan disebarluaskan oleh orang baik tapi bodoh,” ucapnya.

Khambali pun berharap pemilu mendatang akan semakin lebih baik lagi. “Harapan saya untuk pemilu 2024, hindarilah yang namanya politisasi agama, hindarilah yang namanya politik identitas, hindari yang namanya mengadu domba rakyat. Hanya satu permintaan kita bagi para politisi berilah kesejahteraan dan amanah rakyat Sumatera Utara,” pungkasnya.

Acara sosialisasi moderasi beragama inipun berjalan dengan aman dan kondusif serta diakhiri dengan makan bersama.

 

(Sulbarpos/Rizky Zulianda)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Open chat
Hello 👋
ada yang bisa kami bantu ??